Sunday, January 25, 2009

When paradise turned to hell
SHAHANAAZ HABIB REPORTING FROM GAZA


Night after night for the past two weeks, Noordin Samouni wakes up screaming: “They shoot us. They kill us.”

Noordin is just six years old. He saw his father getting shot in the head at close range by Israeli soldiers. More than 30 shots were fired.

“We saw the blood and we saw him die. We couldn’t do anything. We were very scared,” said Noordin’s elder brother, Fahed.

His other brother, Muhammad, who is one-and-half years old, also witnessed the killing but he is too young to fathom it.

Haunted: Noordin saw his father shot in the head by Israeli soldiers.

Fahed said Noordin could only sleep for about two hours each night before the nightmare would come.

“How would you feel if it happened to you? If you saw your father shot in the head just like that?” Fahed, 19, asked me.

Newly married Hadil Samouni finds it hard to come back to what used to be her home in Zaitoon. Wherever she looks, the 21-year-old remembers the sight of her dead relatives lying on the streets and the Israeli soldiers who kept 120 of them confined in one house before bombing them.

“Before the war, this place was like paradise with so many trees,” she said softly, pointing to the flattened area and piles of rubble and destroyed homes.

“Now it’s like hell. It gives me nightmares. I am shaking all the time. I am afraid of everything. Even the sound of someone opening a door makes me jump.

I saw everything. The shootings, the bombings and the screams. And the dead people.”

“After I got out, I was deaf for a week as the explosions were so loud. I still can’t see with my left eye as some fragments got inside,” she said. The Samouni family story is a tragic one. And there are many like them in Gaza.

On Jan 4, Israeli tanks moved in and attacked the area the following day. Many were injured and people managed to telephone for help but the soldiers would not let ambulances come close.

It was only days later that ambulances were allowed in and they pulled out many dead bodies from the area.

The Samouni’s alone lost 29 of their extended family members — 11 of them children and six women. Hadil said she was in her house on that fateful Jan 4 morning, when the soldiers told them to come out and made them go into a house belonging to Wael Samouni.


Hadil tries to shake off the image of her dead relatives. Her left eyesight is impaired from fragments from the bomb.

“There were 120 of us. We stayed there until the next morning. There were children and women inside and they were getting hungry and thirsty as there was no food or water.”

“So four men decided to go out to bring in some water, food and wood for us. But the soldiers shot them. Two died and two were injured.

“We managed to get the injured inside and hoped the Israeli soldiers would leave. But about a minute later, they bombed the house twice. We were all screaming. There were about 20 dead.

“My husband decided to get out and I followed him and the rest of the people followed behind. We carried white flags and raised our hands and the Israelis let us go. But they wouldn’t let us take any of the injured. They said they would shoot us if we tried. So we had to leave them there,” she said.

Hadil is so terrified that she wants to leave Gaza for good. “Those people are barbarians. They lied when they said they do not attack civilians. We had no weapons but still they attacked us,” she said.

Majid Samouni said the women were not even allowed to scream. “One woman was so scared that she couldn’t stop screaming. The soldiers told her to stop but she couldn’t. So they shot her and her two-year-old child dead,” he said.

He said the Samouni family were all farmers and had nothing to do with Hamas.

In one of the homes still standing, Israeli soldiers had scribbled disturbing graffiti on the walls — “Arabs Need to Die,” “Die You All,” “You Can Run But You Can’t Hide,” “1 Down, 999,999 to Go” — these were just some of the scary ones.

On a tombstone, there was this chilling inscription: “Arabs 1948–2009.”

Saturday, April 26, 2008

Mencari Pahlawan Indonesia (01)
Oleh Anis Matta

Siri 01: O, Pahlawan Negeriku

Di masa pembangunan ini”, kata Chairil Anwar mengenang Diponegoro, “Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api”.

Kila selalu berkata jujur kepada nurani kita ketika kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam. Saat itu kita merindukan pahlawan. Seperti Chairil Anwar tahun itu, 1943, yang merindukan Diponegoro. Seperti juga kita saat ini. Saat ini benar kita merindukan pahlawan itu. Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu sendi bangunan negeri kita. Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak.

Di tengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang, kata Sapardi, “telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah”. Pahlawan yang, kata Chairil Anwar, “berselempang semangat yang tak bisa mati.” Pahlawan yang akan membacakan “Pernyataan” Mansur Samin:

Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan ke seluruh dunia
Telah bangkit di tanah air
Sebuah aksi perlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadungan

Maka datang jugalah aku ke sana, akhirnya. Untuk kali pertama. Ke Taman Makam Pahlawan di Kalibata. Seperti dulu aku pernah datang ke makam para sahabat Rasulullah saw di Baqi’ dan Uhud di Madinah. Karena kerinduan itu. Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka:

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukan tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di tahun 1966, “Merelakan kalian pergi berdemonstrasi..Karena kalian pergi menyempurnakan..Kemerdekaan negeri ini.”

Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”

Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata: jadilah pahlawan itu.

Sunday, January 06, 2008

Berhenti Berarti Kalah

Berhenti Berarti Kalah

Oleh: Chandra Kurniawan

19 Apr 2006 08:03 WIB

“Kadang ke Kufah, kadang ke Bashrah, kadang ke Hijaz, dan kadang ke Yaman. Sampai kapan?”

“Bersama mihbarah (wadah tinta) sampai ke maqbarah (kuburan),” jawab Imam Ahmad bin Hanbal saat ditanya tentang kegigihannya dalam menuntut ilmu.

***

Setelah membaca buku Riwayat Sembilan Imam Fikih, aku berkata dalam hati, bahwa aku adalah orang besar. Dan kebesaranku dimulai dari apa yang telah kutulis selama ini. Tulisan-tulisanku merupakan bentuk lain dari perasaan, kemarahan dan kebencianku akan suatu hal.

Aku berpikir bahwa aku adalah orang besar yang kelak akan memikul amanah dakwah dan ummah. Tapi tiba-tiba hati kecilku bertanya, “Perangkat-perangkat apa saja yang telah engkau miliki dan jalan apa saja yang telah engkau tempuh untuk mendapatkannya?” Aku menjawab, “Aku belum punya apa-apa selain keinginanku yang menggebu-gebu.” Hati kecilku kembali berkata, “Aku tahu itu, tetapi itu belumlah cukup. Keinginan itu harus diiringi dengan pelaksanaan yang baik dan konsisten. Engkau harus menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah, atau engkau tidak akan pernah mencapainya. Selama ini aku perhatikan engkau tidak menjalankannya dengan teguh. Engkau lemah oleh bujuk rayu setan dan kemudian menjerumuskanmu pada pelbagai bentuk kemaksiatan. Walaupun pada akhirnya engkau mengakui kesalahanmu itu. Engkau harus kuat. Engkau harus sabar. Bergaullah dengan orang-orang yang shalih karena mereka akan menjaga dan membimbingmu. Takutlah akan azab-Nya yang pedih dikala engkau seorang diri. Tutuplah rapat-rapat mulutmu dari perkataan dusta. Pergunakanlah harta bendamu untuk tujuan yang mulia. Jauhilah sumber-sumber fitnah. Banyaklah menuntut ilmu dan merenungkannya. Tepati janji yang pernah engkau ucapkan. Dan rajin-rajinlah mendekatkan diri kepada Allah.”

Nasihat yang baik. Hati kecilku berkata benar karena ia tak pernah berdusta. Menjadi orang besar bukan perkara mudah, pikirku. Menjadi orang besar berarti mempertaruhkan seluruh kehidupan untuk menggapai apa yang dicita-citakan. Ini tentu saja akan menyedot dan menguras seluruh energi, pikiran, tenaga, dan waktu. Aku pikir, betapa hebat dan mulianya orang-orang besar itu karena mereka telah menang dan kembali dengan jiwa yang tenang. Benarlah apa yang dikatakan seorang ulama, janganlah engkau hanya melihat kesuksesan seseorang, tetapi lihatlah proses mereka meraih kesuksesan itu.

Dari sembilan imam fikih yang kubaca sejarahnya, tak satupun yang tidak pernah mendapat ujian dan cobaan; dipenjara, diasingkan dan disiksa. Bahkan Imam Zaid bin Ali dibunuh dan mayatnya disalib di tempat umum. Untuk menjadi orang besar, mereka harus mempertaruhkan apa yang mereka punya termasuk diri mereka sendiri. Mereka tidak terikat pada suatu apa pun kecuali hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ada perkataan mereka tidak sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, mereka menyuruh kita agar meninggalkannya. Mereka tidak merasa malu mengatakan “saya tidak tahu”, sekalipun ilmu mereka luas dan kepakaran mereka tak tertandingi. Sejak kecil mereka sudah gigih menuntut ilmu dan merenungkan kejadian-kejadian yang ada disekelilingnya sehingga hati menjadi peka terhadap problematika umat. Tidak heran jika mereka mampu menghafal al-Quran sejak usia 10 tahun, 9 tahun, atau bahkan kurang dari itu. Bandingkan dengan keadaan kita saat ini, di usia yang kepala dua, tiga, atau bahkan lebih dari itu, kita belum mampu menghafalnya dengan sempurna. Pada usia dini pula, mereka telah mampu menghafal hadits dan buku-buku karangan guru mereka. Semangat dan etos kerja yang telah tertanam sejak kecil, ditambah dengan lingkungan yang kondusif (lingkungan para alimin dan shalihin), setahap demi setahap cita-cita mereka raih.

Namun, bagi kita, perjuangan belum terlambat untuk terus kita kumandangkan. Dengan segala apa yang ada pada diri kita dan dengan semangat yang kita kobarkan dan dengan amal yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, demi Allah, semua itu tidaklah sia-sia. Kita harus bangkit dari keterpurukan dan kemalasan ini. Kita harus raih kemuliaan sebelum ajal datang menjemput. Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika tersohor dan penemu ilmu aljabar, ternyata baru belajar matematika ketika berusia 24 tahun. Sebelumnya dia adalah pemuda pengangguran yang senang bermain musik. Tapi dia sadar, bahwa apa yang dilakukannya itu adalah kesia-siaan dan kelalaian. Kemudian dia beralih dan mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih bermanfaat. Usia bukanlah penghalang untuk meraih apa yang dicita-citakannya. Kelak beliau dikenal sebagai sosok yang menguasai banyak ilmu pengetahuan mulai dari fisika, kimia, astronomi, filsafat, matematika, dan tentu saja pandai memainkan alat musik.

Imam Bukhari biasa bangun dari tidur, lalu menyalahkan lampu dan menuliskan faedah suatu hadits yang terlintas dalam pikirannya, kemudian tidur lagi dan kembali bangun hingga beliau dalam sebagian malam melakukan perbuatan ini sampai 20 kali.

Imam Abul Wafa bin Aqil al-Hanbali berkata, “Tak halal bagiku menyia-nyiakan sejam pun dari umurku. Sampai-sampai bila lidahku sudah tak mampu untuk bertutur kata, dan penglihatanku tak bisa membaca, aku tetap menjalankan daya pikirku meskipun aku berbaring istirahat. Sehingga aku tak akan bangkit kecuali telah terlintas dalam pikiranku apa yang akan kutulis. Pada umur 80 tahun aku amat gemar kepada ilmu, yang tak kualami ketika aku masih berumur 20 tahunan.”

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Saya kenal seseorang yang sedang sakit demam dan sakit kepala, sedang kitab yang dibacanya tetap berada di atas kepalanya. Apabila sedang siuman maka ia membacanya dan apabila sedang sakit yang sangat, maka ditaruhnya kitab itu di atas kepalanya. Di suatu hari tabib memeriksa sakitnya itu, sedang ia dalam keadaan sedemikian itu, lalu tabib itu berkata, ‘Sungguh tuan jangan melakukan hal ini (membaca), karena akan membahayakan ketahanan tubuh tuan dan dapat berakibat lebih fatal lagi’.”

Syaikh Abdul Adzim bercerita tentang Ishak bin Ibrahim al-Muradi, sebagaimana penuturannya, “Saya belum pernah melihat dan mendengar orang yang lebih banyak kesibukannya sepanjang siang hingga larut malam. Saya bertetangga dengan beliau, rumah beliau dibangun setelah 12 tahun rumahku berdiri. Setiap kali saya terjaga di keheningan malam, selalu terbias sinar lentera dari dalam rumahnya, dan beliau sedang sibuk dengan pencarian ilmu; bahkan sewaktu makan beliau selingi pula dengan membaca kitab-kitab.”

Menjelang wafat Imam ath-Thabari, Ja’far bin Muhammad memanjatkan doa untuknya. Ath-Thabari kemudian meminta tempat tinta dan selembar kertas dan menulis doa itu. Dia ditanya, “Apa arti semua ini?” Maka dia menjawab, “Sepantasnyalah bagi seorang untuk memungut ilmu hingga menjelang kematiannya.” Beberapa saat kemudian beliau wafat.

Imam al-Izz Izzuddin Abdussalam meninggal dunia pada usia 83 tahun pada saat beliau sedang berusaha menafsirkan ayat al-Quran, “Allahu nuurus samawati wal ardh” di hadapan murid-muridnya. Achdiat K. Miharja penulis novel Atheis, mampu menulis novel setebal 219 berjudul Manifesto Khalifatullah pada saat berusia 94 tahun.

Merekalah orang-orang yang tidak terhalang oleh waktu dan peristiwa. Bagi mereka, menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang banyak adalah keutamaan yang besar dan harus mereka jalani hingga maut datang menjemput. Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, berkarya dan meraih prestasi. Berhenti berarti kalah! Karena orang yang berhenti sama saja dengan orang yang mati.

DISCLAIMER : This e-mail and any files transmitted with it ("Message") is intended only for the use of the recipient(s) named above and may contain confidential information. You are hereby notified that the taking of any action in reliance upon, or any review, retransmission, dissemination, distribution, printing or copying of this Message or any part thereof by anyone other than the intended recipient(s) is strictly prohibited. If you have received this Message in error, you should delete this Message immediately and advise the sender by return e-mail. Opinions, conclusions and other information in this Message that do not relate to the official business of PETRONAS or its Group of Companies shall be understood as neither given nor endorsed by PETRONAS or any of the companies within the Group.

Friday, January 04, 2008

bismillah
walhamdulillah
wassolatu wassalamu ala rasulillah

baru lepas habis baca "catatan seorang isteri" by Asma Nadia, an Indonesian writer. Tiba tiba terpanggil untuk mencatat dan menulis kembali. Terutama bila mengenangkan betapa patutnya bersyukur dengan nikmat sebuah keluarga yang indah Allah berikan. Suami beriman, romantis dan bertanggungjawab.. dan paling penting menyayangi diri ini AlhamdulilLah. Baby 'Umar yang comel, menghiburkan, bijak dan juga menyayangi umminya, alhamdulilLah.

Kebetulan tak berapa sihat minggu ni dan harini baru rasa OK sikit alhamdulillah dapatlah menulis sikit. (baru sampai sini dah kena berhenti utk sambung lain kali sbb nak solat asar :))

(sebenarnya isi ini utk entry dalam blog umarnfamily tapi tak jumpa pulak link dia)

Thursday, August 09, 2007

The Battle of Ain Jaloot

The Battle of Ain Jaloot

The Tartars conquered land after land in the Muslim world. They seemed more powerful than any "super power" we can imagine. Then at Ain Jaloot the tables were turned.

Towards the end of 1258 CE the Tartars started invading the Muslim lands. When Caliph Abu Ahmad Al-Muta'sim began preparing an army to stop the invasion, his minister Al-Alkami tricked him by convincing him to make friends with the invaders. Al-Alkami wrote secret letters to the Tartars promising them to halt any resistance against them provided that they appointed him as a Caliph and allowed him to establish his own Shia' state in Baghdad.  When Al-Alkami misinformed Caliph Abu Ahmad Al-Muta'sim and made him think that a peace agreement had been reached with the Tartars, Al Muta'sim left with his minister, scholars, and leaders to Baghdad to meet the leader of the Tartars, who killed them all, and captured Baghdad. After that the Tartars killed Al-Alkami too because they knew that a person who betrays his leader wouldn't spare his enemy.

After the invasion of Baghdad the Tartars conquered Iraq, Syria, Jordan, Palestine, Lebanon, and parts of Egypt. After the downfall of Damascus, the Tartars headed to Egypt and Morocco. The Tartar leader sent a letter full of threats to the Amir of Egypt, Amir Qutz. Amir Qutz had a different reply then the rest of the Muslim leaders. Instead of showing any fear, he challenged them. When Amir Qutz's reply reached the Tartars through their spies in Egypt they knew that they were going to face a different type of enemy.

Unity- The Key to Success: Amir Qutz started preparing for the war. To achieve unity he sent messages to the dispersed leaders of the Mamaleeks such as Beebers Al-Bandakari (who was later known as Beebers the superior) asking them to get rid of their unimportant differences and unite to defeat their main enemies.

The most renowned scholar who contributed to this cause was the Sultan of the Scholars Al-Izz Bin Abdus Salam. He encouraged Amir Qutz to fight the Tartars and all Mulisms to unite under his banner for this purpose.

The results were tremendous. Before the Muslims didn't have the strength to fight the Tartars but now the Muslims gained strength and left Egypt for Syria. Before the Muslims never left their city to go out   and fight. In Syria the Muslims led by Amir Mahmood Saifuddin Qutz moved outside the city and reached a place called Ain Jaloot and the battle took place there. Amir Qutz ordered his army to start moving to face the enemy. He also sent an exploratory battalion under the leadership of Beebers towards Gaza in Palestine, which faced parts of the Tartar’s army in small amounts and beat them, covering the movements of the main army under the leadership of Amir Qutz, which finally arrived near the Palestine shore where the Crusaders had some strongholds. Amir Qutz warned the Crusaders and made it clear to them that he could finish them before he met the Tartars if they didn’t stay neutral in this war. Realizing the authenticity of this threat and seeing the power of the Muslim army, the Crusaders were forced to stay neutral.

When the Muslim army came close to the enemy, Amir Qutz, selected the battlefield to be in a valley surrounded by mountains and he steadied some of his soldiers on the mountains to protect the back of the army against any possible enemy. When the Tartar’s army finally came, fighting erupted in the battlefield and the battle became in favor of the Tartars, their army’s right wing started overcoming the Muslim armies left wing. When the Muslims started retreating, Amir Qutzs climbed on a rock and shouted “Wa Islamah… Wa Islamah…” urging the Muslim army to keep firm and fight there enemies. The Muslims fought on and soon after the battle became in favor of the Muslims, until the Tartar army was shattered. Many of its soldiers were being killed or captivated. Not one Tartar escaped death or capture. In this way the Tartars were defeated.

 

DISCLAIMER: This e-mail and any files transmitted with it ("Message") is intended only for the use of the recipient(s) named above and may contain confidential information.  You are hereby notified that the taking of any action in reliance upon, or any review, retransmission, dissemination, distribution, printing or copying of this Message or any part thereof by anyone other than the intended recipient(s) is strictly prohibited.  If you have received this Message in error, you should delete this Message immediately and advise the sender by return e-mail. Opinions, conclusions and other information in this Message that do not relate to the official business of PETRONAS or its Group of Companies shall be understood as neither given nor endorsed by PETRONAS or any of the companies within the Group.

DISCLAIMER : This e-mail and any files transmitted with it ("Message") is intended only for the use of the recipient(s) named above and may contain confidential information. You are hereby notified that the taking of any action in reliance upon, or any review, retransmission, dissemination, distribution, printing or copying of this Message or any part thereof by anyone other than the intended recipient(s) is strictly prohibited. If you have received this Message in error, you should delete this Message immediately and advise the sender by return e-mail. Opinions, conclusions and other information in this Message that do not relate to the official business of PETRONAS or its Group of Companies shall be understood as neither given nor endorsed by PETRONAS or any of the companies within the Group.

Sunday, March 25, 2007

FW: Help Palestine [hidayahnet] Jangan gelapkan kejayaan orang lain

Sijil Penilaian Malaysia

Ketua Pengarah Pelajaran Datuk Dr Ahamad Sipon, pada tahun ini pihak kementerian tidak memilih pelajar terbaik untuk SPM tahun 2006 sebagaimana tahun-tahun lepas. Katanya seramai 4,779 pelajar yang menduduki SPM tahun tersebut mencapai semua A dan daripada jumlah itu seramai 105 pelajar, termasuk lima pelajar istimewa dipilih sebagai cemerlang, iaitu 100 orang yang memperoleh gred 1A dalam semua mata pelajaran

Kata Ahamad lagi daripada kumpulan murid cemerlang, hanya Yeo Jie Ming dari SMK Tinggi Bukit Mertajam, Pulau Pinang yang berjaya memperoleh gred 1A dalam kesemua 16 mata pelajaran yang diambilnya.

Apabila ditanya pemberita mengapa tidak ada pelajar cemerlang untuk tahun ini, Ahmad menjelaskan bahawa dalam kelompok 105 pelajar itu semuanya mendapat pencapaian yang hampir sama.

Benarkah demikian? Mengapa Yeo Jie Ming sahaja yang ditonjolkan, tidak adakah yang setara atau mungkin lebih baik dari beliau? Jika ada mengapa digelapkan?

[]


Kalau sesiapa yang berkesempatan membaca akhbar NST hari ini kita akan dapati bahawa seorang pelajar perempuan Siti Fatimah Mukhtar, muncul sebagai pelajar terbaik bagi negeri Kelantan. Beliau memperolehi 17A1 iaitu1A bagi subjek Bahasa Malaysia, Bahasa Inggeris, Pendidikan Islam, Sejarah, Matematik, Sains, Geografi, Matematik Tambahan, Prinsip Akaun, Ekonomi Asas, Fizik, Kimia, Biologi, Tamadun Islam, Pendidikan Al-Quran dan As-Sunah, Pendidikan Syariah Islam serta Bahasa Inggeris dalam Sains dan Teknologi, manakala 2A untuk Bahasa Arab Tinggi.

Kenapa, tak hebatkah Siti Fatimah? Rasanya jauh lebih hebat dari Jie Ming lagi. Tetapi kenapa bukan nama beliau yang ditonjolkan?

Kalau mahu tahu cuba lihat nama sekolahnya. Siti Fatimah bersekolah di Sekolah Agama Maahad Muhammadi Perempuan, Kota Bharu. Sekolah milih kerajaan negeri di bawah naungan Yayasan Islam Kelantan (YIK).

Inilah masalah sebenarnya!

Kalau kementerian mahu tonjolkan maka tak secara langsung kementerian terpaksa tonjolkan sekolahnya. Menonjolkan sekolahnya maka terpaksalah juga menonjolkan YIK dan kerajaan negeri Kelantan, itulah sebenarnya masalahnya.

Menurut Berita Harian Siti Fatimah mengaitkan kejayaannya dengan tumpuan ketika guru mengajar serta ulang kaji secara konsisten sepanjang tahun dan berdoa. Kata beliau lagi:
Saya juga menghafaz al-Quran setiap hari bagi menguatkan ingatan saya terhadap pelajaran yang diajar guru.


Apalah yang prejudis sangat. Ini anak Melayu yang cemerlang, takkanlah kerana benci pada PAS yang memerintah kerajaan negeri maka anak-anak bangsa yang cemerlang yang dilahirkan oleh kerajaan negeri ini juga mahu dianak-tirikan!

Sesungguhnya inilah masalahnya dengan orang-orang kita. Sepatutnya apa sahaja yang baik yang disumbangkan oleh sesiapa sahaja antara kita, maka berilah pengiktirafan yang sewajarnya. Yang baik dijadikan contoh yang buruk dijadikan sempadan. Kita tidak akan lihat perkara yang serupa terjadi dikalangan masyarakat bukan Melayu tetapi terlalu biasa sangat sesama kita.

Semoga Siti Fatimah akan terus berjaya dan semoga YIK dan kerajaan Kelantan akan terus berjaya melahirkan anak-anak bangsa yang cemerlang seumpama ini. Mudah-mudahan mereka nanti akan melangkah keluar dengan jaya dan akhirnya berjaya merobah pemikiran bangsa supaya tidak jumud dan ekstrim sebagaimana yang ada pada hari ini.


Author: Unknown

Monday, March 19, 2007

Gentle Reminder

Received a message from my friend:

 

Just to share...one of my Korean colleague passed away recently while warming up to play soccer. He is in his mid 30's leaving his wife and 2 small kids. They just arrived Doha 5 months ago. Took us by surprise but a gentle reminder by Allah that we all belong to Him.

 

Another egyptian friend also related a story, when he was stressed from work and returning home, his wife asked him to go for a drive. Then she told him to stop at the maqabir (tanah perkuburan). The wife then made a remark that touched this brother, "If you think you're stress, then those being buried (while pointing to the maqabir) are more stressed than you are!". Thus my friend, let's not forget our true aim and priority in this life, da'wah ilallah wa jihadun fi sabilillah.

 

Janganlah kerana kesibukan bekerja atau berkeluarga, kita lalai dengan peranan yang harus dimainkan di atas muka bumi ini.

 

Tazkirah buat myself and sahabat,

Megat

 

DISCLAIMER : This e-mail and any files transmitted with it ("Message") is intended only for the use of the recipient(s) named above and may contain confidential information. You are hereby notified that the taking of any action in reliance upon, or any review, retransmission, dissemination, distribution, printing or copying of this Message or any part thereof by anyone other than the intended recipient(s) is strictly prohibited. If you have received this Message in error, you should delete this Message immediately and advise the sender by return e-mail. Opinions, conclusions and other information in this Message that do not relate to the official business of PETRONAS or its Group of Companies shall be understood as neither given nor endorsed by PETRONAS or any of the companies within the Group.

Wednesday, February 14, 2007

Allah's Messenger, sal Allahu alayhi wa sallam, said:
"If Allah loves someone He calls (angel) Jibreel and says: I
love so-and-so, so you love him. Jibreel loves him, and calls
the other angels in Heaven to love that person. They love him,
then his love will be made upon earth, and he becomes loved.

"And if Allah hates someone He calls Jibreel and says: I hate
so-and-so and you hate him. Jibreel hates him and calls the
angels in Heaven and says: Allah hates so-and-so, so you all
hate him. They all hate him, and his hatred is made upon earth
and he becomes hated." - Muslim

[Lessons from this hadith] People do things for the sake of
seeking out love from other humans. All the love you need is
found in obeying Allah. Do actions sincerely to win Allah's
love, and love will be yours!

Wednesday, January 10, 2007

a'uzhubillahi mina shaitani rajim
bismillahi rahmani rahim

alhamdulillahi rabbil 'alamin
wassolatu wassalamu 'ala rasulillah

[dah lama diri menyepi]

Kejar

Rebutlah
Rayu
Mintalah
utk akhiratmu
utk dilepaskan dari api pembakar kulit, kilang nanah mendidih dan jeritan

Bangun
Bangunlah solat malam

Bulan ini
Waktu ini
Malam ini
Bukan masa dadah tidur
Tapi waktu sedari hakikat
masa sujud berpanjangan
masa air mata taubat
masa madu iman
Masa kembali dan berubah
Hanya untuk ar Rahman

Thursday, November 16, 2006

Pernahkah Anda bayangkan bila pada saat kita berdoa, kita mendengar ini:

"Terima kasih, Anda telah menghubungi Baitullah".

"Tekan 1 untuk 'meminta'.
Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.
Tekan 3 untuk 'mengeluh'.
Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."

Atau....

Bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:

"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah sabar menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya."

Atau, bisakah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons seperti ini:

"Jika Anda ingin berbicara dengan Malaikat,
Tekan 1. Dengan Malaikat Mikail,
Tekan 2. Dengan malaikat lainnya,
Tekan 3. Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu,
Tekan 4. "Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka, silahkan tunggu sampai Anda tiba di sini!!"

Atau bisa juga Anda mendengar ini :

"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini. Silakan mencoba kembali esok hari."

atau...

"Kantor ini ditutup pada akhir minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 9 pagi."

Alhamdulillah... Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelpon-Nya setiap saat!!!

Anda hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Anda. Karena bila memanggil Allah, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk. Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.

Saturday, November 04, 2006

Di Mana Damai Desa

"Apa yang kamu menungkan?", abang saya bertanya.

"Kosong. Sengaja Rizal kosongkan fikiran", saya membalas lesu.

Renungan saya di anjung rumah, lepas entah ke mana.

Walaupun Bandar Ipoh, mengesot-esot mengejar pembangunan semasa, kampung halaman saya tetap berjaya mengekalkan suasana kampungnya yang asli. Tanah masih subur. Bau rumput masih membangkitkan kesegaran jiwa saya. Tambahan pula dalam seminggu dua ini, hujan sentiasa membasahkan petang Syawwal. Bunyi hujan yang turun menyimbah atap zink rumah, dengan kokokan ayam mencari teduh, sungguh mententeramkan jiwa.

Aidilfitri ini saya puas. Isteri dan anak-anak ada di sisi. Bonda pula masih sihat dan rendang ayamnya masih yang pertama. Adik-beradik pulang semuanya. Ia menyembuhkan kejanggalan perasaan saya, selepas 11 tahun menempuh Aidilfitri di bumi asing. Tempoh yang cukup panjang. Dan saya hampir terlupa erti Aidilfitri mengikut makna negeri sendiri.

Saya sepatutnya gembira dan ceria kerana syarat-syarat kegembiraan itu ada. Ramadan ditempuh seadanya. Syawwal pula menjelma dalam rukun-rukun dan syarat-syarat yang sempurna.

Tetapi kenapa air muka saya masih sedih? Saya cuba untuk tersenyum tetapi cermin diri masih mempamerkan raut yang hambar.

Saya tidak berniat melukiskan wajah itu di Syawwal ini. Tetapi sudah beberapa orang ahli keluarga saya yang bertanya.

"Kenapa sedih?", tanya isteri saya.

"Apa yang tidak kena?", soal abang saya.

"Ada masalah?", ipar duai saya menduga.

Entah, saya sendiri puas mencari punca. Meneliti satu persatu kotak fikiran dan perasaan. Apa lagi yang tidak kena?

Saya duduk di tangga rumah. Bermuhasabah mencari penjelasan.

Saya amati betul-betul keindahan desa, di mana cacat celanya? Jauh di hujung perhatian, saya tersentak kerana apa yang saya sangkakan indah itu rupa-rupanya tiada warna. Rumput yang sama, ayam yang sama. Tetapi semuanya kelabu tidak berwarna. Desa ini indah, tetapi serinya tiada.

Tawar dan hambar.

Desa tetap indah. Tetapi anak desa sudah berubah. Itulah kedukaan saya.

CERITA 1

Petang tadi, anak-anak saya dan sepupu-sepupunya terkejut kerana letupan mercun. Ada budak yang membaling mercun bola ke bawah rumah kami, ketika anak-anak kecil sedang nyenyak lena di petang Syawwal.

Darah saya panas.

Selang beberapa minit, sebiji lagi mercun dibaling dan kali ini saya hilang sabar. Saya menerpa ke tingkap dan kelihatan tiga anak muda yang sepatutnya sudah melepasi usia aqil dan baligh. Mereka tersengih kepuasan.

"Baling sebiji lagi!", saya mencabar mereka. Demi Allah seumur hidup saya, tidak pernah saya menengking sesiapa dari tingkap rumah. Jiran-jiran pun ada yang terkejut. Inilah kali pertama saya meninggikan suara sedemikian gaya.

Remaja bertiga itu berpaling angkuh. Mereka mengayuh basikal sambil ketawa.

"Jangan dimarah sangat budak-budak tu. Mak takut", kata bonda.

Saya sedar apa yang bonda maksudkan. Saya hanya balik ke kampung sekali sekala. Tetapi bonda yang bakal menghadapi kesan kemarahan saya. Jika ada anak-anak remaja kampung saya yang ditegur, rumah kami akan menjadi mangsa. Mereka akan mematahkan pokok bunga, menabur rokok di bawah rumah, malah mencuri minyak tanah yang bonda simpan di gerobok usang dapur.

Emak selalu ketakutan.

CERITA 2

Beberapa hari sebelum raya saya ke kedai membeli kamera. Semasa saya sedang mengisi borang warranty, seorang lelaki Melayu datang ke kaunter di sebelah saya bersama isteri dan anaknya.

"Saya mahu model yang itu.Coolpix L1", katanya sambil menunjuk kepada kamera yang baru saya beli.

"Maaf encik. Model itu sudah habis. Tinggal satu sahaja", kata jurujual berbangsa Cina itu.

"Bagi saya yang itu laaa!", kata lelaki itu.

Saya tergamam. Biadap sungguh lelaki ini.

"Ini kamera saya. Saya sudah membelinya", saya mengeraskan suara sambil berpaling kepadanya.

Lelaki itu diam membatu. Dia beralih ke kaunter yang lain.

Benarkah apa yang saya saksikan ini? Tidak terlintas di fikiran saya Melayu, yang sebiadap itu.

CERITA 3

Saya mencapai himpunan majalah yang ada di atas almari. Majalah I sukar ditemui di Ipoh. Hanya majalah fesyen yang mudah dibeli. Ketika membelek Majalah Jelita Februari 2006, saya tergamam ketika membaca kenyataan yang dibuat oleh seorang gadis bertudung, tentang pendidikan seks. Katanya,

Seks Tidak Semestinya Selepas Berkahwin!?

"Ketika usia 14 tahun. Ibu bapa pada zaman ini lebih bersikap terbuka dalam membincangkan hal ini, berbeza dengan zaman dahulu. Namun begitu, saya lebih selesa bercakap mengenainya bersama teman lelaki dan teman rapat. Bagi saya seks tidak semestinya selepas berkahwin. Ianya bergantung kepada individu. Mungkin ada yang cuba mencari keserasian dengan pasangan melalui hubungan seks" - S*** *** ***, 22.

Seks tidak semestinya selepas berkahwin? Idea siapakah ini? Janganlah disebut Islam yang diperlambangkan oleh beliau melalui tudungnya. Cukup ditanya, Melayu mana yang berfikiran begitu? Apakah sistem nilai kita sudah berubah hingga ke tahap itu? Nama dipampang, wajah ditera, bersama kenyataan yang amat memperlekehkan Allah dan syariat-Nya.

Tiada selindung, tiada malu atau segan. Apa sudah terjadi?

Saya berulang kali membaca kenyataan gadis itu. Takut tersalah faham. Tetapi itulah yang dipaparkan. Dan Aidilfitri saya makin tidak ceria.

CERITA 4

"Kamu semua ni, tak sembahyang Jumaat ke?", bonda sudah hilang sabar.

Rumah saya terletak di sebelah masjid. Semenjak beberapa tahun ini, generasi Melayu baru semakin bertambah. Mereka datang ke masjid, mungkin kerana dihalau ibu bapa di rumah. Tetapi mereka tidak bersembahyang. Mereka duduk di tangga rumah saya, di bawah rumah dan di atas buaian. Kulit pisang, bungkusan nasi lemak, puntung rokok dan
bungkusan minuman penuh bertaburan di keliling rumah.

Mereka tidak peduli langsung teguran bonda saya. Malah dibalas pula dengan jelingan tajam seperti mengugut penuh dendam.

Terbongkok-bongkoklah bonda sendirian di waktu petang, membersihkan halaman. Anak desa itu sudah hilang budi bahasa. Lumpuh agama...

Mengapa anak desa begitu?

20 TAHUN YANG LALU

Saya juga adalah sebahagian mereka. Kumpulan kami besar. Sekali turun ke padang bermain galah panjang di waktu petang, atau membakar mercun di waktu malam, memang tidak dinafikan ada di antara kami yang `nakal'.

Tetapi nakal kami nakal yang bukan jahat. Tidak biadap dan masih tahu batas susila. Tidak sekali-kali kami menyanggah teguran orang tua.Tetapi hari ini kenakalan itu semacam jauh berbeza. Marah orang tua dibalas ketawa. Nasihat jiran tetangga dibalas maki dan nista.

Budak-budak yang kurang ajar itu, jangan ditegur di depan ibu bapa mereka. Silap-silap, kita pula yang dihamun carut olehnya.

"Engkau jangan nak mengajar aku pula! Jaga anak kamu. Jangan sibuk menegur anak orang lain!", antara dialog yang pernah saya dengar kebelakangan ini di kampung.

Eh, itu bukan bahasa desa. Di desa tiada anak sendiri, tiada anak orang. Orang tua bebas menegur anak-anak desa bahawa kesemua mereka dianggap seperti zuriat sendiri. Di mana hilangnya semua itu?

Desa tinggal desa. Walaupun rumput masih hijau, namun budayanya sudah kuning malah kelabu dan kelam. Apalah ertinya keindahan desa, kalau siang malam jiran tetangga mengeluh kehilangan barang. Jika dulu, paling buruk pun hanya telur ayam dan durian. Hari ini, basikal, gril rumah, besi penutup lubang tandas, motorsikal, malah rumah diceroboh terutamanya yang milik wanita tua kematian suami.

Allah, inikah damai desa yang mahu dibangga?

Saya terus mengelamun di anak tangga. Darah panas, sepanas air mata yang bergenang memikirkan bala ini.

CERITA 5: MALAS MELAYAN TETAMU

Sedih saya di hari raya, bertambah pula apabila saya mengamati budaya melayan tetamu di kalangan generasi muda.

Sedikit sebanyak hari-hari saya di Turki masih hangat di ingatan. Di sana, melayan tetamu adalah sebesar-besar kewajipan hablun minannaas. Setiap tetamu dimuliakan, walaupun yang datang adalah insan tidak bernama.

Tetapi di Aidilfitri desa ini, mengapa ibu bapa sahaja yang menyambut mesra? Saya tidak dapat menerima ketika ada saudara mara yang berkunjung, anak-anak muda masih menatap kaca televisyen.

Tetamu itu bukan jenis tetamu tidak diundang. Mereka bukan orang asing. Ibu saudara, bapa saudara, datuk saudara sebelah emak, adik beradik semoyang. Mereka itu darah daging belaka. Tetapi kenapa generasi muda berat mulut mahu bermesra? Lebih selesa berkurung di bilik, lebih terhormat meniarap mengadap televisyen?

Adat bersoreh sudah dilupakan. Tiada siapa lagi yang sudi mengambil tahu tentang hubungan sesama saudara mara. Mati emak, mati bapak, hilanglah selama-lamanya hubungan dan tali saudara. Tiada siapa lagi yang tahu siapa aku siapa kamu. Pernah berjumpa tetapi entah di mana.

Inilah generasi Melayu baru, di Aidilfitri 1427H.

Dan saya hilang kata-kata, tenggelam dalam keaiban melihat diri sendiri. Bahawa inilah realiti hari ini. Bangsaku sudah cemar, sudah tiada budi tiada pekerti.

Di mana lagi saya mampu mencari gembira di hari raya?

Agama diadatkan. Adat ditinggalkan. Yang tersohor hanya hedonisma dan televisyen. Busuk sungguh rupa agama yang diadatkan, dan ibadat yang dipestakan.

Apakah bangsaku ini sedang menyiapkan diri untuk layak menjadi penyaksi Kiamat? Generasi yang akan membuktikan kegerunan tanda-tanda akhir zaman?

Ampunkan hamba-Mu yang menggenggam bara Islam di akhir umur dunia ini, Ameen ya Rabb!

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

Tuesday, October 31, 2006

'Maafkan saya kak, saya dah tak mampu nak join kawan-kawan lain, ikut program lagi. Saya nak.' Husna mengeluh panjang dan berat, sambil menahan gejolak hatinya yang kencang. Berat sekali untuk meneruskan kata-kata yang hendak ia ucapkan buat murabbinya. Tapi di waktu lain, dia benar-benar merasakan dia tak mampu untuk bersama-sama dengan jemaah dakwah yang ia sertai selama ini.

Fikiran Husna menerawang jauh mengenangkan detik-detik awal dia memasuki dunia dakwah. Husna akui bahawa tarbiyahnya yang selama ini dia ikuti memberi impak yang sangat besar kepada pembentukan peribadinya. Dia mampu mengenakan busana muslimah secara sempurna kerana tarbiyahnya dan dia juga temukan keindahan ukhuwah dengan tarbiyah, bahkan dia mampu 'bekerja' sekarang kerana tarbiyah.

Tapi saat ini, keindahan ukhuwah yang dulu pernah dia rasakan terasa begitu hambar. Kemesraan dan kecintaan yang dibina bersama teman-teman sehalaqah sudah mula memudar. Husna merasakan teman-temannya terlalu cepat berjalan dan dia tertinggal jauh. Mereka begitu sibuk dengan amanah dakwah masing-masing, sementara pada waktu yang sama dia berasa tenggelam, malas dan letih dengan semua itu.

Dia pun tak tau mengapa. Dia ingin teman-temannya mengerti kelemahan jiwanya dan membantunya keluar daripada jeratan-jeratan maksiat yang menjadi asbab kepada kemunduran semangatnya.

Namun ketika mahu dia luahkan pada mereka, dia lantas berasa sangat malu. Teman-temannya asyik membincangkan masalah dakwah bersama murabbinya sehingga Husna tak sampai untuk mengucapkannya.

'Ala.. masalah kecik je, diorang mesti rasa buang masa je untuk cerita' Begitu fikirnya. Akhirnya dia tenggelam keseorangan menelan permasalahannya sehinggalah dia mencari teman-teman di luar komuniti dakwahnya untuk sekadar melabuhkan masalah di hati.

Fenomena di atas bukanlah sesuautu yang mustahil dalam putaran dakwah. Jatuh bangunnya aktivis dakwah dalam meniti jalan ini, fenomena futurnya iman serta berguguran jundi-jundi dakwah adalah biasa dalam perjuangan ini. Itu adalah sunnatullah. 'Imanu Yazid way an quz- Iman itu naik dan turun'.

Akan tetapi yang patut disesalkan adalah ketika berjatuhannya aktivis dakwah ini bukan kerana mereka tidak mahu bangun dan kembali bersama dakwah, tetapi kerana orang-orang yang disekelilingnya tidak mahu membantunya bangkit semula bahkan tidak peduli sama sekali kalau saudaranya sedang terjatuh. Inilah yang patut direnungi bersama.

Kisah Husna adalah satu contoh. Kadang-kadang seorang murabbi itu merasakan bahawa anak-anak buahnya sangat bagus sekali, mendengar pengisian dengan teliti dan bersemangat, mencatat nota dengan rapi, kemudian pulang ke rumah masing-masing dengan aman. Tiada masalah. Padahal di sebalik penampilan yang bagus di hadapan murabbinya, ada jurang kemaksiatan yang dilakukan tanpa pengetahunnya. Anak buah seterusnya mahu mengundur diri dan merasa diri tidak standing dengan teman-teman halaqahnya.

Kuncinya adalah berterus-terang.

Mutu sesebuah halaqah itu sangat bergantung kuat pada kualiti dialog yang dibina di dalam halaqah itu. Tidak mungkin dialog-dialog itu mampu berlaku dengan bestnya jika tidak adanya keterbukaan pada jiwa individu(afrod) yang ada didalam halaqah tersebut. Keterbukaan di sini adalah berterus terang dalam menyampaikan segala permasalahan walaupun sekecil manapun masalah itu. Jangan memandang enteng sesuatu masalah itu jika itu memang memerlukan penyelesaian.

Bagi seorang murabbi tidak sebolehnya terlalu mempercayai bahawa ia telah memberikan banyak bahan dan terlalu yakin bahawa mad'unya telah menjadi kader-kader yang tidak mungkin jatuh tatkala ketika tersadung batu ujian.

Lihat sahaja kisah terbukaan Kaab bin Malik di perang Tabuk pada Rasulullah. Panglima besar Islam itu tidak mahu berperang hanya kerana malas! Namun dia bersimpuh di hadapan Rasulullah sambil berkata, 'wahai Rasulullah, andai aku berhadapan dengan selain engkau, aku yakin aku dapat mencari alasan, namun aku khuatir Allah akan membuatmu marah padaku dengan mengungkapkan kedustaan itu melalui wahyu."

Apa yang ditonjolkan Kaab sudah cukup menjadi renungan kite semua akan erti keterbukaan, berterus terang dan kejujuran. Di sanalah kuncinya.Ketika seorang mad'u berterus terang akan kesalahannya, makan akan legalah hati, walaupun mungkin ianya memalukan. Di saat itulah motivasi rohani dari murabbi dan nasihat teman-teman harus segera diberikan untuk mengupgradekan langkah-langkah yang sudah tertinggal.

Eratkan kembali ukhuwah.

Satu lagi perkara yang berperanan besar dalam menjaga stamina ruhiyah seorang afrod (individu) dalam tarbiyah adalah ukhuwah. Kadang-kadang kerana kesibukan yang mencengkam, hak-hak ukhuwah yang seharusnya kita berikan kepada saudara kita menjadi terabai.

Maka wajarlah bila kita rasakan sewaktu berprogram, pertemuan rutin menjadi kering tanpa makna. Kosong. Perkara sebegini haruslah diatasi. Sesibuk manapun aktiviti kita, hak-hak ukhuwah harus tetap kita berikan. Berwajah cerah ketika bertemu, saling berziarah sehingga kita tahu keadaan keluarganya, masalah yang sedang dihadapinya serta keadaan imannya.

Cari masa untuk bermalam bersamanya agar dapat bertukar cerita sehingga kita boleh berempati ( empathy ) terhadap permasalahan saudara kita. Saling nasihat menasihati baik diminta ataupun tidak, saling bertukar-tukar hadiah dan saling mendoakan doa rabithah. Andai kesemua hak-hak ukhuwah tersebut kita tunaikan, akan menjadi tipislah kemungkinan untuk bergugurannya sahabat-sahabat kita di jalan dakwah, insyaAllah.

Akhirnya saudaraku, tarbiyah itu unik. Di situ bukan sahaja sekadar perpindahan( transfer) ilmu dan bahan, tetapi adalah proses bagi setiap individu di dalamnya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dan lebih dari itu, langkah-langkah ke arah menjadi lebih baik itulah yang menjadikan kita mengerti akan hakikat hidup berjemaah. Tarbiyah bukanlah segalan-galanya, namun segalanya-galanya bermula dari tarbiyah.

Dari majalah ' Al-Izzah no 19; aktivis dakwah, bersaudaralah! '

Sunday, October 29, 2006

Why do some people become ugly?
by Shaykhu-l-Islâm Ibn Taymiyyah

Have you ever wondered why so many people who were bright and beautiful as children, however, as they grew older their innocence and beauty eluded them? Well, wonder no more – Shaykhul-Islaam Ibn Taymiyyah (rahimahullaah) explains to us:

"The person who is righteous and honest, his honesty is manifest from the radiance on his face, and his honesty can be known from the glow that is on his face, likewise the (opposite for the) sinful one and the liar. The older a person gets, the more this sign becomes apparent.

Thus a person as a child would have a bright face, however if he becomes a sinful person, adamant on committing sins, at the older stages in his life, an ugly face would manifest that which he used to internalise, and the opposite is also true. It has been narrated that Ibn Abbaas (radiyallaahu ‘anhu) said, ‘Indeed righteousness illuminates the heart, radiates the face, strengthens the body, increases provision, and produces a love in the hearts of the creation for that person.

Whereas sinfulness darkens the heart, greys the face, weakens the body, and produces hatred in the hearts of the creation for that person.’

It is possible that a person may not intentionally lie; he may even be a person who makes great effort in ibaadah and has zuhd (abstains from pleasures of this life that are lawful). However he has false, incorrect ‘aqeedah regarding either Allaah, His deen or His Messenger (sallallaahu ‘alayhi wa sallam) or His righteous servants. And what is on the inside affects what is on the outside. Thus, this false, incorrect ‘aqeedah that he thought was true and correct reflects
on his face, and his face would be dark in accordance with the level of falsehood he possesses. As it has been narrated that ‘Uthmaan ibn Affaan (radiyallaahu ‘anhu) said, ‘No one ever hides evil
within themselves except that Allaah makes it manifest from his facial outlook and the statements his tongues utters.
’ Hence some of the salaf used to say, ‘If a person of innovation were to dye his beard every day, the dye of innovation would remain on his face.’ On the day of judgment this would be very clear as Allaah says, He ta’ala also said, Ibn Abbaas and others have said regarding this verse,

‘The bright faces will be ahlus-sunnah, and dark faces will be the people of bid’ah and division.’" ‘Aj-jawaab as-saheeh’ (Vol.4, pg. 306-307)

"And on the Day of Resurrection you will see those who lied against Allaah their faces will be black. Is there not in Hell an abode for the arrogant ones?" [Sooratuz-Zumar,]

"On the Day when some faces will become white and some faces will become black; as for those whose faces will become dark (to them will be said): "Did you reject Faith after accepting it? Then taste the torment for rejecting Faith." [Soorah Aali-Imraan, 3:106]
Brownies with a Difference

Many parents are hard pressed to explain to their youth why some music, movies, books, and magazines are not acceptable material for them to bring into the home or to listen to or see.

One parent came up with an original idea that is hard to refute. The father listened to all the reasons his children gave for wanting to see a particular X-rated film/movie.

It had their favorite actors. Everyone else was seeing it. Even other Muslims said it was great.

It was only rated PG because of the suggestion of sex-- they never really showed it. The language was pretty decent-- only three instances of vulgar words were used in the whole movie.

The teens did admit there was a scene where a building and a bunch of people were blown up, but the violence was just the normal stuff. It wasn't too bad. And, even if there were a few minor things, the special effects were fabulous and the plot was action packed.

However, even with all the justifications the teens made for the 13' rating, the father still wouldn't give in. He didn't even give his children a satisfactory explanation for saying, "No." He just said, "No!"

A little later on that evening the father asked his teens if they would like some brownies he had baked. He explained that he'd taken the family's favorite recipe and added a little something new. The children asked what it was.

The father calmly replied that he had added dog poop. However, he quickly assured them, it was only a little bit. All other ingredients were gourmet quality and he had taken great care to bake the brownies at the precise temperature for the exact time. He was sure the brownies would be superb.

Even with their father's promise that the brownies were of almost perfect quality, the teens would not take any. The father acted surprised. After all, it was only one small part that was causing them to be so stubborn. He was certain they would hardly notice it. Still the teens held firm and would not try the brownies.

The father then told his children how the movie they wanted to see was just like the brownies. Our minds trick us into believing that just a little bit of evil won't matter. But, the truth is even a little bit of "poop" makes the difference between a great treat and something disgusting and totally unacceptable.

The father went on to explain that even though the movie industry would have us believe that most of today's movies are acceptable fare for adults and youth, they are not.

Now, when this father's children want to see something that is of questionable material, the father merely asks them if they would like some of his special dog poop brownies. That closes the subject.
Malaysians Lament 'Secularized' Ramadan

IslamOnline.net & News Agencies



Scholars lament that youths leave Tarawih prayer for merriment at luxurious malls.


KUALA LUMPUR — Malaysian scholars blasted Friday, October 2, the commercialization of Ramadan, lamenting that the holy fasting month is becoming increasingly "secularized."

"During this month the Muslims are supposed to put aside their lust and concentrate on their spirituality," Harussani Zakaria, the mufti from northern Perak state, told Agence France-Presse (AFP) Friday, October 20.



"But in our country, they fast the whole day because they have no choice but to do so and at night it is as if they are out in a vengeance the way they flock to the malls, bazaars and all types of entertainment outlets," he added.



The fasting month, which ends next week with Eid al-Fitr celebrations, is supposed to be a time of self-denial and reflection during which Muslims abstain from eating, drinking, smoking and sex from dawn to dusk.



But instead, religious leaders complain, many people are more interested in hunting bargains at Ramadan sales, attending concerts and breaking their fast at sumptuous buffets laid on by every hotel and restaurant.



"It is only in Malaysia that the commercialization of the holy month is so prevalent. You get an overdose of concerts, TV shows and all sorts of sales gimmicks. This is wrong in Islam."



"Secularized"

Harussani said that Ramadan is being increasingly secularised.



"I think the main reason is not because people have all that much money to spend but it is because the spirit of Islam itself is not deep. People do not really understand the whole reason of fasting and Ramadan," he said.



Leading consumer activist Mohamad Idris laments businesses and advertisers are taking advantage of the season to promote spending sprees and gluttony.

"This not only is against Islam but it can also shake a Muslim's faith," Mohamed said.

"Shopping malls and corporate companies are competing with each other to use the festive season to sell their products and services."

"Malls are packed with shoppers every night this season, when they are supposed to actually pack the mosques to perform prayers and meditate on the Qur'an," he said.

Retail giant Metrojaya estimates that the last three months of the year account for 60 percent of their annual business, and about half of that is generated by sales during Ramadan.



"This is the time to catch people with extra pocket money," said its assistant general manager for sales and promotions, Alice Tan.

"For all retailers, this is a festive season where we do a lot of promotions to generate sales," she said.

Mohamed, who has called for a total ban on the use of Ramadan and Eid to advertise products and services, said that the nation's poor often fall prey to the marketing campaigns.

"They are trapped into buying expensive things that they do not need and in the end they are debt-laden," he said.

"What limited income they have is further eroded by overspending and overindulging."
http://jefriharris. blogspot. com/
LURUSKAN SAF ! RAPATKAN SAF !

Ungkapan ini sering kita dengar dari mulut imam dalam solat jemaah. Akan tetapi amat mengecewakan apabila ungkapan tinggal ungkapan, tanpa perlaksanaan. Kita masih melihat ahli jemaah menjauhkan diri dari satu sama lain. Ada yang marah apabila dirapati atau ditarik untuk merapat. Walhal, hakikatnya, saf dalam solat melambangkan persatuan dan kesatuan umat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

"Hendaklah kalian luruskan saf kalian, atau ALLAH akan memecahbelahkan persatuan kalian." (HR Muslim no 436).

Adalah menjadi kewajipan IMAM untuk memastikan saf dibelakangnya lurus dan rapat sebelum bertakbir, sebagaimana yang dibuat oleh Rasulullah SAW,

Dari Nu'man bin Basyir RA berkata, "Adalah Rasulullah SAW meluruskan saf kami, seolah-olah meluruskan anak panah sehinggalah beliau berpuas hati bahawa kami telah memenuhi pangilannya. Pada satu hari, beliau keluar untuk solat. Beliau berdiri dan ketika hendak takbir, kelihatan seorang yang dadanya kehadapan dari saf. Beliaupun besabda, Hendaklah kalian luruskan saf kalian, atau ALLAH akan memecahbelahkan persatuan kalian." (HR Muslim no 436).

Atas kesedaran tentang pentingnya perkara ini, Umar bin Khattab RA mewakilkan seorang untuk meluruskan saf. Beliau tidak akan bertakbir memulai solat selagi belum dikhabarkan bahawa saf telah lurus. Begitu juga Ali dan Uthman. Ali sering berkata sebelum solat, " Ke hadapan wahai fulan! Ke belakang wahai fulan!" (Jami' Tirmizi 1/439, Muwattha 1/173, Al-Umm 1/233).

Satu kesalahan yang menyelisihi sunnah, sering kita lihat di mana imam menyeru, luruskan saf! rapatkan saf! Lalu terus bertakbir memulakan solat tanpa melihat samada ahli jemaah melakukannya.

Anas bin Malik RA berkata, " Masing-masing dari kami (dahulu) menempelkan bahunya ke bahu kawan, dan mengenakan kakinya ke kaki kawannya. Jika kamu lakukan pada zaman sekarang, nescaya mereka menjadi seolah-olah KELDAI LIAR. (tidak suka dan menjauh). " (HR Abu Ya'la dalam Musnad 3720, Silsilah Sohihah 31)

Bushair bin Yasar Al-Ansari berkata, dari Anas RA, "Bahawa ketika beliau (Anas) datang ke Madinah, beliau ditanya, ' Apa yang engkau benci pada mereka semenjak engkau mengenali Rasulullah SAW ?' Beliau menjawab, ' Tidak ada yang aku benci dari mereka kecuali mereka tidak merapatkan saf." (HR Bukhari 724, sebagaimana dalam kitab Aktha Almusollin, Syaikh Masyur Hasan 207).


Sekiranya perkara ini diremehkan, maka kaum muslimin akan:

· Memberi peluang dan ruang untuk syaithan sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Luruskan saf kalian, dan luruskanlah bahu-bahu kalian, dan tutuplah celah-celah. Jangan biarkan celah-celah tersebut untuk syaithan. Barangsiapa yang menyambung saf, nescaya Allah akan menyambung(urusan) nya. Barangsiapa yang memutuskan saf, nescaya Allah akan memutus(urusan) nya." (HR Abu Daud 666, Sohih Targhib wa Tarhib 495)

· Berpecah dan banyak beselisih sebagaimana telah disebut dalam hadith sebelum ini.

· Hilang pahala yang besar, sebagaimana diterangkan dalam sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya mendoakan orang yang menyambung saf." (HR Ahmad 4/269, 285, 304).

Alangkah ruginya kita apabila tidak mendapat pahala solat sepenuhnya hanya kerana kita lalai atau mementingkan keselesaan peribadi, lihat sabda Nabi, "Sesungguhnya seorang hamba itu mendirikan solat tetapi tidak mendapat pahala kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperlapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga atau setengah." (HR Abu Daud, An Nasai).

Alhamdulillah, semoga dengan kesedaran ini kita boleh memperbaiki sifat solat kita untuk menyamai sifat solat Nabi SAW. Sabda Rasulullah SAW, "Solatlah kamu sepertimana kamu lihat aku solat" (HR Bukhari dan Ahmad, dalam Irwaul Ghalil 213).
http://www.armansur.com/viewtopic.php?forum=1&topic=95

Sudah berakhir Ramadan. Bagaimana kualiti puasa kita? Berapa agaknya markah yang nak kita beri kepada puasa kita, kalau markah penuh ialah 10?

Yang pasti puasa di Malaysia ini memang hanya menuju kepada makanan. Ada siapa yang hendak mempertikaikan? Kenapa tiba-tiba ada Bazaar Ramadan. Kenapa tiba-tiba ada makanan yang pelik-pelik belaka. Pendek kata soalannya tetap: "Mengapa bulan puasa mesti dikaitkan dengan pesta makanan?" Inilah dia suasana puasa di Malaysia: Pesta Makanan.

Akhbar yang nak mengampu Islam Hadhari pun seperti biasa membelit -- katanya, "Bazaar Ramadan wujudkan peluang perniagaan kepada umat Islam." Pandai atau tak membelit? Isunya ialah puasa dikaitkan dengan makanan dan pembaziran, kenapa dibelit kepada peluang perniagaan. Peluang perniagaan apa kalau hanya setahun sekali berjualan. Adakah ia layak disebut perniagaan atau berjualan?

Wartawan-wartawan ini perlu ditarbiyah sikit. Semasa kes Syarifah Aini vs Siti Nurhaliza dulu, ada lelaki yang kena tangkap kemudian ada beberapa komputer di rumahnya. Yang peliknya, komputer itu diangkut, kemudian wartawan menambah, "didapati ada komputer di rumahnya dipercayai digunakan untuk menulis emel." Kelakar.

Baru-baru ini ada serbuan di utara, budak UUM jual VCD palsu melalui internet. Punya bangang wartawan TV3, main tembak, "Dipercayai telah mengaut jutaan ringgit dengan menjual VCD palsu melalui internet." Hakikatnya kalau dia boleh menjual RM100 sebulan pun dah merupakan satu keajaiban.

Lepas terawih, sekali 'ter'lepak dengan sahabat yang pernah berpuasa di Mekah. Katanya, di sana suasananya amat berbeza. Di Malaysia mengejar makanan, di sana terkejar-kejar mengejar peluang untuk beribadat.

Semoga makin berubah hendaknya suasana puasa di Malaysia ini. Moga makin ada kesedaran supaya puasa di Malaysia kembali semula seperti tahun-tahun dahulu, sebelum wujudnya Bazaar Ramadan.

Bukan saya iri hati tapi sakit mata bila melihat anak-anak yatim di Pinggir Taman Tun Dr Ismail ini setiap petang berbuka puasa di hotel. Sekali lagi, mengapa mesti dikaitkan dengan makanan? Begitukah cara hendak mendidik anak (termasuk anak yatim)?

Satu risalah dari JIM telah menyedarkan saya, betapa selama ini kita membazir dan saban hari mencurahkan garam ke dalam laut. Risalah JIM itu, agak terlambat sampai ke masjid-masjid. Semoga tahun depan akan tersedar dan melaksanakan saranan JIM itu.

Kita perhatikan cara membuang garam ke laut -- adanya majlis buka puasa di masjid (bahkan setiap masjid di KL ini) setiap petang. Perlukah itu? Contohnya di Masjid Sungai Pencala ini sejak bertahun-tahun ada majlis berbuka puasa dengan bajetnya RM400 setiap petang dari mereka yang menderma. Untuk apa? Sedangkan di rumah masing-masing boleh berbuka puasa. Yang saya lihat, Indon yang menunggu makan free di masjid. Ramai yang meragui sama ada puasa atau tidak. Selepas berbuka (atau makan free) sepatutnya solat Maghrib berjemaah. Yang peliknya, ramai yang lesap selepas makan.

Bukankah bajet RM400 itu sebaiknya disalurkan kepada mereka yang sangat memerlukan makanan untuk berbuka puasa. Rasanya di Malaysia tidak ada yang memerlukan makanan di masjid sebab masing-masing berbuka puasa di rumah atau hotel. Itulah maksudnya mencurah sekilo garam ke dalam laut, setiap petang selama 30 hari. Itulah juga yang JIM anjurkan supaya bajet buka puasa itu dibawa ke tempat yang sangat memerlukan seperti di Kemboja dan Selatan Thai. Di sana menurut JIM, mereka sangat memerlukan makanan untuk berbuka puasa.

Menderma biar kena tempatnya, jika tidak, ibarat mencurahkan garam ke dalam laut. Kalau tidak, jadi seperti Robin Hood -- niatnya bagus, caranya tak bagus, sampaikah matlamatnya?

Di Balai Islam atau Masjid Al-Gufran di Pinggir Taman Tun Dr Ismail pula bajetnya RM1,900 setiap hari, walau makanannya macam makanan musafir. Saya rasa inilah masjid yang paling banyak membazir -- ada aircon. Bukan tak boleh, tetapi ada tempat lain yang lebih memerlukan, berbanding bermewah-mewah begitu. Di Kemboja terkial-kial hendak mendapatkan dana membina masjid, di sini bermewah-mewah dengan memasang aircon. Kemudian seperti di Baitul Maqdis pula, ada dua jaga Nepal mengawal. Bukan satu, tapi dua. Apa yang hendak dikawal? Bukankah itu satu lagi pembaziran? Memang agak pelik pentadbiran masjid tersebut sejak dipengerusikan oleh satu personaliti yang mukanya seperti orang kalah judi. Bila meletakkan yang bukan ahli pada tempatnya, tunggulah kehancuran. Biasa mendengar hadis begitu?

Inilah masalahnya di Malaysia ini -- masjid dan surau dipolitikkan. Memang semakin pelik bila badan-badan agama seperti jakim, jawi, rumi, ahmad jais ada kaitan dengan parti politik.

Pesta makanan dah berakhir. Kita bermewah-mewah dan membazirkan makanan setiap petang sedang di satu tempat lain, umat Islam seakan rela untuk mengutip makanan yang kita buang yang dibeli atas sebab nafsu membeli, bukan keperluan.

Pesta kedua ialah Pesta Membeli yang selalunya terjadi semasa transit antara Pesta Makanan dengan Hari Raya. Berduyun-duyunlah dari segenap pelusuk membeli-belah untuk Hari Raya. Ada tak ada mesti ada duit untuk memenuhi nafsu membeli. Masa ini tidak dapat membezakan antara kemahuan dengan keperluan.

Pesta ketiga pula terjadi semasa berduyun-duyun balik ke kampung dan balik bandar selepas balik kampung. Sejak dahulu lagi sudah 'branding' sebagai Pesta Kematian. Statistik kematian akibat kemalangan jalan raya makin meningkat. Apa puncanya? Ada yang cuba mencari punca? Orang yang gila publisiti macam Lee Lam Thye tak pernah mencari punca sebaliknya mencari kesempatan konon nak membantu mengurangkan kemalangan dan jenayah. Makin meningkat bukan makin berkurang.

Apa puncanya? Bagi pendapat saya puncanya ialah tak sabar dan nak menayang. Tak sabar nak sampai rumah nak menayang kereta yang seperti sarkis -- ekzos boleh masuk ular sawa, sport rim, dan entah apa-apa lagi. Tak sabar nak menayang kerendahan IQ di kampung halaman. Kalau nak mati, matilah seorang akibat tak sabar dan menayang itu. Masalahnya, akibat tak sabar dan menayang itu orang yang tak bersalah turut sama mati.

Tiga pesta besar berlaku dalam masa sebulan di negaraku tercinta. Sejenak menung -- rasanya tidak ada negara di dunia ini yang mengadakan 3 pesta besar dalam masa sebulan seperti itu selain di negaraku tercinta Malaysia.

Wednesday, October 18, 2006

Bismillahi rahmani rahim
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

selamat hari raya pada kawan2 semua. dalam berseronok, jgn lupa yg kurang upaya... maybe boleh gi lawat rumah anak yatim ke rumah orang2 tua2 ke waktu raya nanti kalau sempat. sometimes showing our face & sembang2 sikit lebih bermakna utk mereka dan kita (sbb kita betul2 interact & terasa sedihnya, syahdu bila tgk & reflect on our nikmat) dari just bagi duit je..

stay safe & doa byk2 dalam perjalanan.. doakan jugak utk kawan2 semua + ummat Islam as a whole. May Allah help us overcome the evilness in this world. May He accept all our good deeds and perfect them.. for HE KNOWS that even our best deeds are truly lacking and faulted. May He forgive us for all our shortcomings and help us improve and become better servants of His. Loved and beloved by Him and all good creatures, amin! taqabbala Allahu minkum wa minna...
may peace and blessings be upon our beloved leader and prophet of Allah...



minal aidin wal faizin
In pursuit of Allah's pleasure *
abu wa umm baby (belum pilih nama!)

Tuesday, October 03, 2006

Sometimes

It's nice to be close to someone, to share the warmth, to let the flow of
emotions overtake you. But as the law of nature tells us, the closer we are
.. the higher friction it would create. For each and every slight movement,
we could feel it rustle. And I couldn't agree more.

The Extra-Special Fasting

Extra-special Fasting means fasting of the heart from unworthy concerns and wordly thoughts, in total disregard of everything but God, Great and Glorious is He, and the Hereafter; it is broken by thinking of worldly matters, except for those conducive to religious ends, since these constitute provision for the Hereafter and are not of this lower world.
 
Those versed in the spiritual life of the heart have even said that a sin is recorded against one who concerns himself all day with arrangements for breaking his Fast. Such anxiety stems from lack of trust in the bounty of God, Great and Glorious is He, and from lack of certain faith in His promised sustenance.
 
Excerpted from the Inner Dimensions of Worship by Imam al-Ghazali.