Saturday, April 23, 2005

Why I Love Bintulu?

Sebab nyaman ya, di sinun tiada traffic jam.

Kamek ada teman-teman seiman yang rajin buat usaha agama, pergi usrah, dengar ceramah, lakukan ziarah. Banyak pohon-pohon hijau yang menyejukkan mata, menghilang kabus di wajah, menenang dada yang resah.

Ada pantai boleh jalan-jalan di waktu petang, ada peluang untuk santai di kolam renang. Ada asatiz yang dulu belajar di Mesir, boleh ajar-ajar bab agama. Pace pun tidak sehectic KL.

Pendek kata, I Love Bintulu!

Hamdan lillah.

p/s: tulisan sementara belum stress kerja .. ehe.

Saturday, April 16, 2005

Memahami Keganjilan Aminah Wadud

Oleh: Adian Husaini

“Khâlif, tu’raf!”.Bersikap Ganjillah kamu, kamu akan terkenal, begitu kata pepatah Arab. Kalimat itu yang kini dipakai Aminah Wadud, termasuk kawan-kawannya di Indonesia! Baca CAP Adian Husaini ke-94.

Pada Hari Jumaat, 18 Mac 2005, dunia Islam dikejutkan oleh sebuah peristiwa di sebuah gereja di Amerika Serikat. Ketika itu, seorang tokoh Islam Liberal yang dikenal aktif memperjuangkan hak sama rata gender (gender equality), bernama Prof. Dr. Aminah Wadud, menjadi imam dan khatib untuk salat Jumaat.

Jemaahhnya berjumlah sekitar 100 orang bercampur laki-laki dan wanita. Dari gambar-gambar yang disiarkan oleh media massa terlihat barisan shaf Solat bercampur aduk antara laki-laki dan wanita. Shaf laki-laki dan wanita sejajar. Disamping itu, muazinnya seorang wanita yang tidak mengenakan jilbab, tetapi dia ikut salat Jumaat juga. Para ulama di dunia Islam, seperti Syaikhul Azhar dan Yusuf Qaradhawi, telah memberikan kritik keras terhadap peristiwa tersebut.

Majma’ al-Fiqhi al-Islami (MFI), badan internasional dalam hukum Fiqh Islam, mengecam keras tindakan Aminah Wadud, yang merupakan seorang profesor bidang kajian Islam di Virginia Commonhealth University. Lokasi salat Jumaat itu tepatnya di Synod House, gereja Cathedral St. John, di Manhattan, New York.

MFI yang bernaung di bawah OIC ini menilai apa yang dilakukan Wadud ini sebagai bid’ah yang menyesatkan dan musibah. Itu tercermin dengan majunya seorang wanita untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, menjadi khatib dan Imam untuk solat Jumaat, dengan jemaah campuran laki-laki dan wanita, dan dilaksanakan di sebuah Cathederal.

Pernyataan resmi yang dikeluarkan MFI, menjelaskan bahawa Wadud telah melakukan pelanggaran hukum-hukum syariat dari beberapa segi; iaitu khutbah Jumaat oleh wanita, imam wanita atas jemaah lelaki, jemaah wanita dan lelaki yang berdiri sejajar dan berdampingan serta terjadinya ikhtilath (campur-gaul antara laki-laki dan wanita) dalam ibadah. Ahli Fiqih Islam sepakat bahawa solat Jumaat hanya diwajibkan atas kaum laki-laki.

Selain itu, seperti sudah maklum, kedududukan wanita dalam solat seharusnya di belakang laki-laki. Berdasarkan berbagai nash dalam hadits Rasulullah Saw, maka MFI memutuskan, bahawa salat Wadud dan kawan-kawannya tidak memenuhi syarat dan mereka harus menggantinya dengan solat Zuhor.

Tindakan Wadud sudah banyak mencetuskan kecaman dari berbagai pihak. Sudah pasti, banyak juga yang kagum dan memuji kenekadan Wadud dalam menentang tradisi yang sudah dianggap mapan selama 1400 tahun lebih. Khabarnya, di Indonesia sudah ada rencana sebahagian kaum wanita untuk mengikuti jejak Wadud. Wakil Pengarah Pusat Kebudayaan Islam di New York, Muhammad Syamsi Ali, misalnya, juga menyatakan bahawa ibadah Jumaat versi Wadud itu tidak sah. Yusuf Qaradhawi juga mengecam keras tindakan Wadud, dan menegaskan bahawa solat Jumaat versi Wadud itu adalah bid'ah yang munkar.

Begitulah pendapat berbagai ulama dan lembaga Islam antarabangas. Kita sedia maklum akan hal itu. Secara dalil-dalil syar’i, tindakan “Wadud and the gang” memang teruk. Namun, tentu saja, bagi Wadud dan kawan-kawan, berbagai hujah fiqih yang diajukan oleh para ulama terkemuka itu tidak mereka pedulikan. Sebab, mereka sudah kemaruk dengan fahaman‘gender equality’ ala Barat-sekular, bahawa laki-laki dan wanita harus dipandang sejajar, tidak boleh ada manusia yang diberi status hak istimewa atas dasar jenis kelamin. Yang menjadi dasar adalah soal kemampuan. Jika wanita lebih bagus bacaan al-Qur’annya, maka ia lebih berhak menjadi imam, dibandingkan laki-laki yang kurang bagus bacaan imamnya. Ketua rumah tangga tidak didasarkan pada jenis kelamin —yakni semestinya laki-laki— tetapi berdasarkan kemampuannya. Mungkin sahaja wanita menjadi kepala rumah tangga, jika dia lebih mampu berbanding suaminya.

Begitu juga dalam soal khatib, baik khatib Jumaat maupun salat Id. Dasar ideologinya sama: ‘gender equality’.

Natijah dari cara berpikir ini sangat jauh dan akan membongkar sistem metodologi penetapan hukum Islam. Hujah Amina Wadud dan kawan-kawan tidak akan ‘bertemu’ dengan argumentasi para ulama yang berasaskan dalilnya kepada kaedah-kaedah dasar ushul fiqh. Sebab, bagi Amina Wadud, kaedah ushul fiqih itu pun mereka mendakwa hasil ciptaan laki-laki yang diciptakan untuk melestarikan hegemoni laki-laki atas wanita. Mereka sudah dipengaruhi fahaman bahawa fiqih adalah ciptaan laki-laki. Sebuah buku berjudul Rekonstruksi Fiqh Perempuan (1996:9) menulis kata-kata sebagai berikut: “Konstruksi fiqh yang sarat dengan norma dan doktrin yang androsentrik di satu sisi dan di sisi lainnya bernuansa permasalahan zaman tertentu dirasakan menghambat realisasi potensi kaum perempuan dalam arus transformasi.”

Sebagai contoh, jika dikatakan, bahawa jika wanita bertindak sebagai imam, maka laki-laki di belakangnya akan bisa terganggu salatnya, maka mereka akan menjawab, bahawa wanita pun juga bisa tergoda oleh laki-laki. Bukan hanya laki-laki yang bisa tergoda oleh wanita. Jika dikatakan, bahawa suara azan wanita bisa mengganggu syahwat laki-laki, maka mereka akan berargumen bahawa suara laki-laki juga bisa membangkitkan syahwat wanita. Dan seterusnya. Maka, Wadud membuat lolongan untuk mencampuradukkan antara laki-laki dan wanita dalam salat Jumaat versi dia sendiri. Mungkin gaya salat seperti ini akan dijadikan model oleh orang-orang yang memang ingin bercampur aduk antar laki-laki dengan wanita.

Maka, dalam mengambil sikap terhadap kes Amina Wadud, sebaiknya kita tidak hanya melihatnya dalam aspek fiqih semata, tetapi juga aspek worldview (pandangan hidup) dan epistemologi (metodologi ilmu). Bagaimana Wadud sampai kepada kesimpulan semacam itu. Bahkan, perlu juga dilihat pada aspek psikologi. Apakah tindakan itu ada kaitannya dengan ‘mental minder’ yang bisa menjangkiti kaum kulit hitam di AS? Apa untungnya bagi Amina Wadud melakukan tindakan ganjil dan "waton suloyo" alias (janji berlainan) dengan kaum Muslim pada umumnya?

Sebahagian manusia akan memberi gelaran kepada Amina Wadud sebagai seorang yang ‘progressif’ (dari bahasa Latin: progredior, artinya: saya maju kedepan). Sebab, A. Wadud dinilai berani mendobrak tradisi lama yang sudah berusia 1400 tahun. Luar biasa! Dia seorang progresif, bukan konservatif, bukan orthodoks. Bukan orang kuno lagi, tetapi sudah maju ke depan, sudah progressif. Begitu biasanya gelaran yang diberikan kepada orang seperti Aminah Wadud.

Sebenarnya, jika direnungkan lebih mendalam, Aminah Wadud bukan seorang progressif, tetapi justeru dia seorang yang sangat konservatif. Kenapa? Kerana dia sebenarnya telah hanyut dan menghambakan dirinya pada ideologi global yang sedang dominan (hegemonik) saat ini, iaitu ideologi gender equality. Cara pandang dia terhadap laki-laki dan wanita adalah cara pandang yang sudah terhegemoni oleh wacana gender sekular, sudah tidak merdeka lagi sebagai seorang Muslim. Wadud bukan seorang yang progressif, dalam arti, dia tidak berani berpikir jauh ke depan, melintasi batas-batas hegemoni ideologi dominan saat ini, yaitu ideologi gender equality. Dia gagal untuk menilai hakikat dan hikmah hukum-hukum Islam yang memang banyak memberikan perbezaan tindakan terhadap laki-laki dan wanita.

Kerana syariat Islam bersumber kepada wahyu Ilahi, maka prinsip dasar Islam adalah menekankan kepada keyakinan kepada keagungan dan keadilan Allah dalam ketentuan-ketentuan hukum-Nya. Allah Maha Tahu atas makhluk-Nya. Lebih Tahu daripada si makhluk itu sendiri. Bagaimana pun, laki-laki memang berbeza dengan wanita. Biarkanlah mereka dalam perbezaannya.

Kita lihat, bagaimana cara berpikir Amina Wadud bersifat tidak tetap dan hanya menjurus ke bahagian-bahagian yang dianggap menguntungkan jenisnya (wanita).

Sebagai contoh, A. Wadud membangkang kerana tidak diperbolehkan menjadi imam dan khatib salat Jumaat. Lalu ia buat ibadah Jumaat, versinya sendiri. Ia seperti ingin menunjukkan, bahawa wanita juga mampu menjadi khatib dan imam Jumaat, seperti halnya laki-laki. Dicarilah ‘dalil-dalil pinggiran’ untuk menjustifikasi perbuatannya. Ia memprotes pembatasan wanita dalam soal salat Jumaat. Tetapi, dia tidak protes, mengapa wanita tidak boleh melaksanakan salat saat haid atau nifas. Harusnya, sesuai dengan perkembangan teknologi pengobatan, wanita tidak perlu lagi dilarang meninggalkan salat ketika haid atau nifas. Bukankah itu penghinaan kepada kaum wanita, kerana wanita dianggap sebagai makhluk yang lemah? Seolah-olah wanita dianggap berhak beribadah kerana haid.

A. Wadud harusnya mengajak kaumnya ramai-ramai protes terhadap hal-hal semacam itu dan mendemonstrasikan keberaniannya untuk masuk masjid dan salat beramai-ramai waktu mereka sedang haid. Kan, sudah banyak alat-alat yang mampu mencegah tercecernya darah haid atau nifas ke lantai masjid. Begitu juga, mestinya mereka protes, dengan larangan wanita untuk puasa waktu haid dan nifas. Dengan menggunakan hermeneutika yang memasukkan unsur sejarah dan sosio-kultural dalam analisis teks-teks hukum, mereka bisa beragumen, bahawa dalil-dalil yang melarang wanita masuk masjid atau solat di waktu haid dan nifas diturunkan di zaman kuno, ketika manusia belum mampu memproduksi alat pembalut wanita.

Kita boleh melihat lebih jauh bagaimana konservatifme A. Wadud dan para aktivis gender dalam berbagai kes. Mereka hanya tertawan kepada ideologi yang sedang dominan, yang sedang “ngetrend” di Barat dan dunia global. Mereka tidak berani berpikir jernih dan melihat jauh ke depan, bagaimana konsep ‘gender equality’ itu sendiri sebenarnya sebuah konsep yang bermasalah dan perlu dikritik. Cara pandang terhadap ‘gender’, konsep hubungan laki-laki dan wanita ala Barat-sekular itulah yang perlu ditelaah dengan cermat. Sebab, banyak perbezaan antara konsep ‘equality’ Barat dan Islam.

Memang ada sebuah hadits Rasulullah Saw yang menyatakan:

“Innama al-nisa’u syaqa’iqu al-rijal.” (Sesungguhnya kaum wanita adalah setara dengan kaum laki-laki). [HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i].

Maksudnya, secara prinsip, di hadapan Allah, tidak ada perbezaan antara laki-laki dan wanita. Mereka akan menerima pahala dari Allah, jika mereka menjalankan perintah dan larangan Allah. Jadi, dalam pandangan hidup Islam, konsep ‘equality’ dalam gender mengandung muatan atau dimensi ilahiyah. Maka, dalam pandangan Islam, martabat wanita yang mengasuh dan mendidik anaknya dengan baik di rumah, tidak lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki yang berdemo di depan gedung DPR menolak keputusan pemerintah yang tidak adil dalam menaikkan harga BBM. Allah tidak menyia-nyiakan amal tiap manusia, baik laki-laki maupun wanita. (Qs. an-Nisâ’ [4]: 195).

Dimensi ilahiyah dan ukhrawiyah (adanya pahala dan siksa) inilah yang tidak ada dalam pemahaman “gender equality” Barat-sekular. Maka, kaum sekular ini melihat aspek-aspek duniawi sebagai standar tinggi dan rendahnya martabat wanita. Mereka kemudian memandang perlu agar wanita mendapatkan nilai peratus tertentu sebagai anggota kabinet, anggota legislatif, dan berbagai jabatan duniawi lainnya. Sebab, bagi penganut ideologi ini, kedudukan-kedudukan wanita dalam lapangan duniawi seperti itu, dianggap sebagai kemuliaan bagi martabat wanita. Islam sendiri sangatlah jelas sikapnya dalam hal-hal seperti itu.

Islam tidak melarang wanita bekerja. Islam juga mengharuskan wanita mencari ilmu, sama dengan kewajiban laki-laki. Wanita boleh duduk dalam berbagai jabatan publik. Untuk menjadi kepada negara (khalifah), memang semua ulama mazhab bersepakat tidak mengizinkan. Bagi kaum feminis, larangan itu dianggap penghinaan terhadap wanita.

Sekali lagi, ini menyangkut worldview dan cara berpikir. Hingga sekarang, di AS saja belum pernah ada seorang wanita yang menjadi Presiden di sana. Bahkan, anggota parlemen wanita di Iran jauh lebih banyak dibandingkan dengan di AS. Dalam dunia Katolik, hingga kini, wanita tidak diizinkan menjadi pastor. Maka, agak aneh, jika katedral di Manhattan itu mengizinkan Aminah Wadud menjadi imam solat Jumaat.

Sepanjang sejarah Islam, kaum Muslim paham, bagaimana konsep ‘persamaan’ antara laki-laki dan wanita diterapkan. Rasulullah Saw sendiri sudah menjelaskan dan memberikan contoh, bagaimana Kaum Muslimin menerapkan konsep itu. Kaum Muslim faham, bahawa pemberian masa iddah bagi wanita selepas talak, bukanlah penghinaan kepada wanita —sebagaimana difahami oleh Siti Musdah Mulia dan kawab-kawan, sehingga mereka juga mengharuskan laki-laki punya iddah. Hak talak buat laki-laki juga bukan penistaan martabat bagi wanita. Begitu juga dengan penempatan wanita dalam saf salat di belakang laki-laki. Ini bukan penghinaan bagi wanita. Yang dinilai dalam solat adalah ketepatan syarat dan rukunnya serta kekhusyukan hati.

Sepanjang sejarah Islam, telah lahir ribuan ahli fiqh wanita. Sejumlah guru para imam mazhab dan ulama hadits, juga wanita. Seorang ahli fiqh wanita terbesar adalah Aisyah r.a. Pendapat beliau dalam fiqh tidak berbeza dengan pendapat para sahabat laki-laki. Para ulama Islam —baik laki-laki atau wanita— sepanjang sejarah, telah memahami konsep ‘equality’ dan ‘diskriminasi’ laki-laki dan wanita dalam Islam.

Mereka tidak memandang penempatan wanita di shaf belakang laki-laki sebagai satu bentuk penindasan wanita.

Jika waktu ini ada orang-orang seperti Aminah Wadud, Musdah Mulia, dan lain-lain, kita memahami, bahawa konsep mereka tentang ‘equality’ memang bukan berangkat dari worldview Islam. Mereka mengadopsi konsep worldview lain yang kemudian digunakan untuk meneropong Islam. Wajar jika hasilnyakacau. Lihat saja, hingga kini Wadud belum menghasilkan sebuah cara pandang keilmuan yang sistematik dalam metodologi pengambilan (istinbath) hukum Islam. Bisa diduga, Wadud tidak akan konsisten dengan gagasannya. Kita lihat, apakah setiap hari Jumaat dia menjalankan ibadah salat Jumaat, sesuai dengan gagasannya itu. Mungkin Profesor satu ini punya pikiran: “Kalau laki-laki bisa khutbah Jumaat, masa saya tidak boleh? Jadi, ia ingin menunjukkan, bahawa dia juga boleh khutbah dan jadi imam, seperti laki-laki.”

Kalau cara berpikir ‘dendam’ dan ‘iri’ semacam itu yang digunakan, maka kita siap-siap saja menunggu berbagai kejutan dari Aminah Wadud, hingga mungkin saja suatu ketika dia juga ingin menunjukkan, “Kalau laki-laki mampu beristeri lebih dari satu, saya juga mampu bersuami lebih dari satu.” Untuk mengokohkan citra dirinya sebagai pejuang ‘gender equality’ Wadud dan kawan-kawan bisa mengusulkan agar dunia menghapus semua diskriminasi antara laki-laki wanita, sehingga tidak ada lagi perbezaan kategori laki-laki dan wanita dalam bidang olah raga; tidak ada lagi pembezaan toilet laki-laki dan wanita; tidak ada lagi hak cuti haid dan cuti melahirkan untuk wanita. Sebab, semua itu adalah bentuk diskriminasi dan pelecehan wanita. Di zaman edan, hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya, bisa saja terjadi. Jika Wadud menolak diskriminasi gender dalam soal ibadah, tetapi menerima diskriminasi gender dalam bidang olah raga dan ‘pertoiletan’, maka kita patut menelaah dengan cermat, bahawa kasus
salat Jumaat Wadud di Manhattan ini sebenarnya bukan soal fiqih semata, tetapi lebih kepada masalah pola pikir dan kejiwaan.

Pepatah Arab menyatakan: “khâlif, tu’raf!”, (nyelenehlah kamu, maka kamu akan terkenal). Atau, dalam istilah Latin: “esto alius, notus es!”. Ali ra bahkan pernah mengatakan, bul mâ’a zam-zam (kencingilah air zam-zam). Wallahu a’lam. (KL, 24 Mac 2005). [Hidayatullah.com]

Sesuatu yang pasti dan Pasti dilalui adalah
Kematian. Setiap patah perkataan yang kita tulis
Ada yang menghisabnya.

Ahmus

Tuesday, April 12, 2005

bismillaah ..

there's a time when I just want to pray,reading quraan, do dzikr + in constant 'ibadaah n do nothing else ..

there's a time when I just want to be away from ppl, thinking of nothing except about me and my Lord ..

there's a time when the test gets harder and harder and i know there's no one out there can help me out except Allaah ..

there's a time when i feel so long of Rasool Allaah & his companions ..their special brotherhood environment ..relentless da'wah spirit ..full of force 'ibaadat momentum ..

and now, i am embarking in this journey ..the journey of 'uboodiyyah ..the journey of love fillaah ..the journey of endless struggle ..

i ask you, O Allaah, please strengthen me with the outmost strength & determination..only upon You I place my reliance & hope ..I will try my very best to fulfill my promises, bi idznillaah ..

Labbaik Allaahumma Labbaik ..please accept me & have mercy upon me ..irhamnee yaa Rabb..

irhamnee ..

http://aabidah.blogspot.com/
La tai-as

Yakinlah bahawa Allah kan pasti mengabulkan jua doa dan permintaanmu. Sedangkan iblis;

- makhluk yang dilaknat
- sejurus selepas melakukan dosa
- berdoa untuk kesesatan manusia

.. itupun Allah kabulkan.

Yang penting, la tai-as .. la tahzan.
Usah berputus asa, usah bersedih.

Sunday, April 10, 2005

Kehidupan malam KL dan UK

Oleh: DR. ISMAIL IBRAHIM

SEORANG ibu yang saya temui semasa menyertai satu program anjuran Jabatan Penuntut Malaysia London minggu lepas, menyatakan bahawa anak remajanya yang berada bersamanya di Manchester, tempat dia sedang menyiapkan tesis doktor falsafahnya, tidak pernah keluar rumah pada waktu malam semasa berada di sana. Tetapi ketika kembali ke Kuala Lumpur masa cuti baru-baru ini, anaknya itu boleh dikatakan setiap malam meminta kebenarannya untuk keluar malam.

Di bandar raya tempat kediamannya di United Kingdom (UK) tersebut, pada waktu malam tidak ada ``kehidupan'' di dalam bandar, atau di jalan-jalannya. Kebanyakan kedai menutup pintunya sebelum menjelang waktu maghrib, bukan kerana penjaganya hendak bersembahyang maghrib, sebab kebanyakan mereka bukanlah beragama Islam, tetapi kerana masa berniaga di sana, hanyalah sekadar pukul 6 atau 7 malam. Selepas itu kedai ditutup, tiada perniagaan lagi.

Itulah gambaran kehidupan malam di UK pada keseluruhannya. Malah di kota raya London yang terkenal dengan kesibukannya itu pun, kedai dan gedung perniagaannya pada umumnya, menutup pintunya pada pukul 6 atau 7 malam. Jalan raya yang terkenal dengan syurga membeli-belahnya kepada para pelancong tempatan dan luar negara, termasuk pelancong dari negara kita, seperti Oxford Street, lengang menjelang malam, atau lewat petang.

Bagi sesetengah kalangan, hal ini menunjukkan kemalasan orang putih untuk berniaga, tetapi bagi orang-orang seperti ibu yang saya maksudkan di atas, hal ini agak sihat di dalam masyarakat moden yang amat canggih dan mencabar ini. Apa gunanya berniaga dan mendapatkan keuntungan yang banyak, sekiranya hal itu membawa kepada satu gejala yang dapat mengorbankan nilai-nilai murni kehidupan, apa lagi bagi masyarakat beragama seperti kita ini?

Sebab itulah, ibu yang saya sebutkan di atas, menyatakan bahawa anak remajanya pada waktu malam di rumahnya di UK, akan berada di rumah, menonton televisyen, melayari komputer, membaca buku pelajaran dan sebagainya. Atau kalau tidak ada apa yang hendak dibuatnya, maka dia akan segera menarik selimut, belayar dalam alam mimpi, terutamanya ketika berada di dalam bilik yang dingin, pada musim sejuk.

Tetapi ketika balik ke Malaysia kerana menghabiskan cuti, kepala ibu menjadi pening, kerana hampir setiap malam anaknya itu akan meminta kebenarannya untuk keluar malam bersama kawan-kawannya. Di UK anaknya mempunyai kawan sebaya juga, tetapi dia tidak pula sibuk untuk keluar dengan rakannya itu, malah rakannya juga tidak akan keluar pada waktu malam, kerana seperti yang dinyatakan di atas, di sana tidak ada kehidupan malam. Tidak ada restoran 24 jam, tidak ada gerai yang menjual nasi lemak atau roti canai, dan tidak ada gerai untuk mereka lepak-lepak berbual sampai pagi, pukul tiga atau empat, sambil minum-minum teh tarik atau Coca-Cola.

Di UK ibu remaja tersebut juga dapat menumpukan perhatian sepenuhnya kepada kajian dan tesis Ph.Dnya tanpa risau atau bimbang dengan keselamatan anaknya, kerana anaknya berada di dalam rumahnya mulai dari waktu senja sehingga pagi esok. Tetapi di Malaysia, kalau anaknya tidak minta keluar pada waktu malam, rakan-rakannya pula yang akan menelefonnya mengajak keluar. Waktu yang dipilihnya untuk keluar malam itu pula, bukan pada pukul 8 atau 9 malam, tetapi kebanyakannya, pada pukul 10 atau 11 malam baru mula nak pakai baju untuk keluar. Keluarnya pula bukan sejam dua, tetapi sampai berjam-jam, kadang-kadang menjelang azan subuh baru pulang keletihan dan mengantuk. Ketika itu hanyalah bantal yang menjadi temannya, dan segala azan atau subuh akan dibiarkan berlalu begitu sahaja, kerana badannya terlalu letih, dan matanya tidak mampu dibuka lagi.

Apabila orang mulai tidur pada pukul 4, 5 atau 6 subuh, tentulah dapat dibayangkan pukul berapa baru dia dapat bangun. Malah dapatlah juga dibayangkan bagaimanakah beratnya kepala dan badan orang yang bertindak demikian, kerana dia sebenarnya telah melanggar sunah alam, iaitu kejadian siang dan malam yang dijadikan Allah untuk tidur dan jaga.

Allah menjadikan malam untuk manusia berehat dan tidur, dan siang ialah untuk berjaga dan bekerja, kerana kejadian fizikal serta fitrah manusia pun telah diprogramkan begitu oleh sunah alam, maka ketika manusia menukar fitrah kejadian Allah itu, kehidupannya tentulah tidak normal dan seimbang lagi.

Memang suasana sekeliling yang sebenarnya mencorakkan kehidupan kita manusia ini. Di London tidak ada gerai untuk kita melepak, tetapi di Bangsar atau Sri Hartamas, terlalu banyak gerai yang menarik kehadiran generasi tua dan muda untuk berjaga malam. Di London, bar atau pubnya, kebanyakannya hanya dibuka sehingga pukul 11 malam, tetapi di Bangsar dan tempat-tempat lain, mungkin dibuka sehingga pukul 2 atau 3 pagi. Kalau undang-undang mengatakan mereka boleh membuka hingga pukul 2 pagi umpamanya, mereka cuba-cuba juga membukanya hingga pukul 3 atau 4 pagi, kerana biasanya pihak berkuasa tidak menghantar penguat kuasanya untuk melihat sama ada para peniaga itu mematuhi peraturan dan undang-undang yang dikuatkuasakan ataupun tidak.

Di London dan bandar-bandar lain juga di UK, orang yang meminum minuman ringan atau arak, nampaknya senyap-senyap saja di dalam kedai minuman, kerana mereka tidak boleh membawa minuman itu keluar premis yang ditetapkan. Tetapi di bandar ala Amerika atau New York negara kita, semua orang yang berjalan di atas jalan, dapat melihat orang meminum minuman keras atau ringan di dalam kedai minum, atau kadang-kadang kelihatan kelibat manusia berjalan, atau berarak di tengah jalan dengan botol atau tin minuman keras di tangannya.

Inilah suasana dan persekitaran yang merunsingkan kebanyakan ibu bapa yang mempunyai anak remaja sekarang ini di negara kita, seperti yang diceritakan oleh ibu di atas, khususnya di bandar-bandar yang telah dicorakkan sebegitu rupa, supaya kelihatan seperti bandar koboi, atau yang bersuasana kota uncle tom.

Bagi sesetengah golongan, mungkin hal ini tidaklah merupakan isu besar yang merunsingkan. Apa salahnya budak-budak muda itu keluar berhibur dan sembang-sembang dengan rakan sebayanya sepanjang malam, sambil minum teh tarik?

Malah bagi sesetengah ibu bapa moden pun, mungkin mereka beranggapan, apa salahnya anak-anak saya berada di luar, sama ada di gerai minum Coca-Cola, atau di kelab malam berhibur? Saya tahu anak saya berada dalam kelab malam, dan dia selamat di sana, malahan dia berjanji dengan saya akan balik ke rumah pada pukul 3 pagi, jadi apa yang hendak dirisaukan, dia berada di tempat yang selamat, bukan di atas jalan?

Tetapi bagi ibu yang berada di Manchester itu, dia mempunyai pandangan yang amat berlainan. Bila pulang ke Malaysia, dia risau anaknya terpengaruh dengan unsur jahat di luar, takut terlibat dalam permainan jahat, cuba-cuba minum Coca-Cola atau air syaitan, hisap itu atau hisap ini, hidu itu atau hidu ini, dan takut juga bila keluar dari tempat minum, ditangkap pula oleh jabatan agama Islam, bukankah malu dibuatnya? Atau kalau tidak ditangkap jabatan agama yang menjadi polis moral yang mengacau daun itu pun, mungkin pula anaknya itu menumpang kereta mewah kawannya, yang dipandu secara gila-gila, seterusnya berlanggar dan mengorbankan nyawa anaknya itu? Bukankah hal ini memeningkan kepala ibu tersebut?

Seterusnya dia takut pula, kesihatan anaknya terganggu, kerana tabiat tidur dan jaganya tidak mengikut fitrah kejadian dan biologikal manusia lagi, yang pada jangka panjangnya tentu akan menyebabkan mudarat kepada badan dan pemikiran, fizikal dan mentalnya. Malah lebih dari itu, dia risau juga kerana anaknya tak dapat sembahyang subuh, sebab bagaimana nak bangun subuh, kalau pukul 3 atau 4 baru nak tidur?

Oleh itu, katanya, lebih baik dia tinggal di negara orang putih ini saja. Tak payah risau dan susah hati, tidak pening kepala dan tak perlu fikir yang bukan-bukan, seperti yang dialaminya di Malaysia ketika anaknya keluar malam dan tidak pulang-pulang hingga dinihari. Dia sendiri tidak dapat tidur malam, dan bukan hanya tidak dapat tidur, malah fikirannya juga menjadi runsing dan buntu, mana nak fikirkan hal tesisnya yang belum selesai, ditambah pula dengan perilaku anaknya yang melampau itu. Kalau tidak dibenarkan anaknya keluar di negara sendiri, nampak macam tidak adil pula, tambahan pula dia balik bercuti sekali-sekala sahaja, bukan selalu, dan peluang anaknya berjumpa kawan-kawannya pula hanyalah semasa balik cuti itu.

Saya hanya mendengar saja ceritanya itu, kerana saya ke sana bukanlah sebagai pakar runding cara, atau pakar motivasi. Tetapi terlintas juga di kepala saya, takkanlah pula kita yang berada di negara sendiri, beramal, beragama dan berbudaya serta berbudi bahasa, akan lari ke negara Barat yang pesimis, negara orang tidak beragama dan tidak beriman, malah negara yang sentiasa kita anggap jahat itu?

Sehingga saya selesai menulis catatan ini, saya masih tidak tahu, bagaimanakah keadaan yang kusut ini hendak kita rungkaikan. Bagaimanakah kecelaruan perasaan hati kecil seperti hati kecil ibu yang prihatin ini dapat kita tolong redakan. Dia berkata juga bahawa dia takut sekiranya pengalaman dan kerisauan ini berterusan, mungkin satu hari dia akan mendarat di dalam klinik psikiatri kerana mengalami penyakit kemurungan dan tekanan jiwa yang hebat!

Namun kalau dia hendak terus tinggal di UK pula, dia tidak akan dibenarkan berbuat demikian, kerana dia sedang memakan wang universiti yang menyara dan membelanjakannya untuk mendapatkan ijazah tinggi itu, ertinya mahu tidak mahu, dia mestilah pulang ke negara sendiri.

Oleh itu persoalan yang ditimbulkannya, apa mungkinkah bila dia pulang nanti keadaan di sekelilingnya, khususnya pada waktu malam akan berubah? Mungkinkah cara hidup dan budaya kehidupan malam di negara sendiri yang kelihatan tidak terkawal itu akan mempunyai disiplin dan batas-batas tertentu yang tidak memberikan ruang kebebasan yang begitu banyak kepada generasi muda untuk mengubah sunah Allah dalam memanfaatkan siang dan malamnya?

Saya berfikir, sekiranya pun hendak diadakan perubahan yang radikal, maka siapakah pula yang akan mengadakan perubahan itu? Jabatan agama? Kerjanya sebagai ``polis moral'' tidak diperlukan lagi oleh banyak kalangan. Akta moral? Akta itu telah didesak supaya dimansuhkan. Ibu bapa? Ibu bapa pun, ada yang suka kehidupan dan gaya hidup anak mudanya seperti itu. Jadi siapa? Hanya Allah sahaja yang lebih mengetahui, wallahualam bissawab.
A Woman's Reflection on Leading Prayer

by Yasmin Mogahed
(Friday 25 March 2005)


--------------------------------------------------------------------------------

"Given my privilege as a woman, I only degrade myself by trying to be something I’m not--and in all honesty--don’t want to be: a man. As women, we will never reach true liberation until we stop trying to mimic men, and value the beauty in our own God-given distinctiveness."

--------------------------------------------------------------------------------

On March 18, 2005 Amina Wadud led the first female-led Jumuah (Friday) prayer. On that day women took a huge step towards being more like men. But, did we come closer to actualizing our God-given liberation?

I don’t think so.

What we so often forget is that God has honored the woman by giving her value in relation to God?not in relation to men. But as western feminism erases God from the scene, there is no standard left?but men. As a result the western feminist is forced to find her value in relation to a man.

And in so doing she has accepted a faulty assumption. She has accepted that man is the standard, and thus a woman can never be a full human being until she becomes just like a man?the standard.

When a man cut his hair short, she wanted to cut her hair short. When a man joined the army, she wanted to join the army. She wanted these things for no other reason than because the “standard” had it.

What she didn’t recognize was that God dignifies both men and women in their distinctiveness--not their sameness. And on March 18, Muslim women made the very same mistake.

For 1400 years there has been a consensus of the scholars that men are to lead prayer. As a Muslim woman, why does this matter? The one who leads prayer is not spiritually superior in any way.

Something is not better just because a man does it. And leading prayer is not better, just because it’s leading. Had it been the role of women or had it been more divine, why wouldn’t the Prophet have asked Ayesha or Khadija, or Fatima?the greatest women of all time?to lead? These women were promised heaven?and yet they never lead prayer.

But now for the first time in 1400 years, we look at a man leading prayer and we think, “That’s not fair.” We think so although God has given no special privilege to the one who leads. The imam is no higher in the eyes of God than the one who prays behind.

On the other hand, only a woman can be a mother. And God has given special privilege to a mother. The Prophet taught us that heaven lies at the feet of mothers. But no matter what a man does he can never be a mother. So why is that not unfair?

When asked who is most deserving of our kind treatment? The Prophet replied ‘your mother’ three times before saying ‘your father’ only once. Isn’t that sexist? No matter what a man does he will never be able to have the status of a mother.

And yet even when God honors us with something uniquely feminine, we are too busy trying to find our worth in reference to men, to value it?or even notice. We too have accepted men as the standard; so anything uniquely feminine is, by definition, inferior. Being sensitive is an insult, becoming a mother?a degradation. In the battle between stoic rationality (considered masculine) and self-less compassion (considered feminine), rationality reigns supreme.

As soon as we accept that everything a man has and does is better, all that follows is just a knee jerk reaction: if men have it?we want it too. If men pray in the front rows, we assume this is better, so we want to pray in the front rows too. If men lead prayer, we assume the imam is closer to God, so we want to lead prayer too. Somewhere along the line we’ve accepted the notion that having a position of worldly leadership is some indication of one’s position with God.

A Muslim woman does not need to degrade herself in this way. She has God as a standard. She has God to give her value; she doesn’t need a man.

In fact, in our crusade to follow men, we, as women, never even stopped to examine the possibility that what we have is better for us. In some cases we even gave up what was higher only to be like men.

Fifty years ago, society told us that men were superior because they left the home to work in factories. We were mothers. And yet, we were told that it was women’s liberation to abandon the raising of another human being in order to work on a machine. We accepted that working in a factory was superior to raising the foundation of society?just because a man did it.

Then after working, we were expected to be superhuman?the perfect mother, the perfect wife, the perfect homemaker?and have the perfect career. And while there is nothing wrong, by definition, with a woman having a career, we soon came to realize what we had sacrificed by blindly mimicking men. We watched as our children became strangers and soon recognized the privilege we’d given up.

And so only now?given the choice?women in the West are choosing to stay home to raise their children. According to the United States Department of Agriculture, only 31 percent of mothers with babies, and 18 percent of mothers with two or more children, are working full-time. And of those working mothers, a survey conducted by Parenting Magazine in 2000, found that 93% of them say they would rather be home with their kids, but are compelled to work due to 'financial obligations'.

These ‘obligations’ are imposed on women by the gender sameness of the modern West, and removed from women by the gender distinctiveness of Islam.

It took women in the West almost a century of experimentation to realize a privilege given to Muslim women 1400 years ago.

Given my privilege as a woman, I only degrade myself by trying to be something I’m not--and in all honesty--don’t want to be: a man. As women, we will never reach true liberation until we stop trying to mimic men, and value the beauty in our own God-given distinctiveness.

If given a choice between stoic justice and compassion, I choose compassion. And if given a choice between worldly leadership and heaven at my feet?I choose heaven.

Saturday, April 09, 2005

Fury, Threats Over Jewish Plans to Storm Al-Aqsa

The planned storming risks flare-up in the region.


OCCUPIED JERUSALEM, April 8 (IslamOnline.net & News Agencies) – Thousands of Israeli police deployed in Occupied Jerusalem's Old City and denied many Palestinians access into Al-Aqsa Mosque for prayers Friday, April 8.

The Israeli measures came amid rising tension and fury over plans by Jewish extremists to storm Islam’s third holiest site Sunday, April 10, seeking to stall Israel’s planned withdrawal from the occupied Gaza this summer.

Thousands of Palestinians took to streets for protests, where leading resistance groups vowed to walk away from the current truce if Jewish ultra-nationalists enter the shrine this weekend, according to Reuters.

Eight factions, including Hamas, Islamic Jihad and Al-Aqsa Martyrs Brigades, issued a warning after news of a rally scheduled for Sunday, April 10, by thousands of ultra-nationalists.

In a statement, Palestinian factions said they would abandon a three-month-old de facto truce if “Zionist extremists storm the mosque compound ... Such an act would be a declaration of all-out war and the calm would come to an end”.

Meanwhile, thousands of Palestinians, including masked gunmen, marched in Gaza Friday to back up the factions’ threat.

Israel said it would ban non-Muslims from the site, revered by Muslims as Al-Haram Al-Sharif (Noble Sanctuary) to prevent far-right Israelis rallying there, according to Reuters.

Several hard-line lawmakers said they had hoped to use their parliamentary status to get around the ban. They, too, were told they would be prohibited from visiting the mosque compound, according to Reuters.

But Revava, the far-right group organizing the rally, has pledged to go ahead anyway, saying its supporters would get as close to the holy site as possible.

On March 16, Israel's Channel Two television showed a video of Jewish rabbis and far-right extremists discussing ways to occupy the Aqsa compound at a secret meeting in the Old City.

Assurances


Thousands of Palestinians, including masked gunmen, marched in Gaza to denounce Jewish plans to storm Al-Aqsa. (Reuters)


Palestinian President Mahmoud Abbas told reporters he had received assurances from Israeli Defense Minister Shaul Mofaz that security forces would prevent any attack on the compound in Al-Aqsa, according to Reuters Friday.

An attack on the compound could inflame Muslims worldwide and jeopardize US-backed efforts to revive Middle East peace talks, according to Reuters.

Sunday is the eve of a meeting between Israeli Prime Minister Ariel Sharon and President George W. Bush in Texas.

Palestinians began their Intifadah in 2000 after Sharon, then opposition leader, toured the compound under heavy security.

Israel bars Jewish prayer in the compound to avoid aggravating tensions. But police restored access for Israelis and other non-Muslims in 2003 after a years-long security ban.

On Friday, they denied access to Muslim men under 40 and to anyone without a Jerusalem residence card in a bid to limit numbers and prevent tempers flaring.

Police commanders said the prayers passed off without major incident.

Three groups of faithful who had been denied access to the mosque compound gathered by the walls of the Old City between Damascus Gate and the Rockerfeller museum to pray in the street, an Agence France-Presse (AFP) photographer said.

The Palestinian leadership warned Thursday that any attack on the compound “would be an aggression against the Arab and Islamic nations”.

Several times before, Israeli occupation forces had stormed the mosque’s esplanade and clashed with Muslim worshipers.

On April 12, 2004, at least 70 Palestinians were injured when Israeli forces stormed the mosque compound.

Archeologists have also warned that ongoing Israeli excavations weakened the foundations of Al-Aqsa mosque, cautioning it would not stand a powerful earthquake.

http://islamonline.net/English/News/2005-04/08/article06.shtml

Friday, April 08, 2005

Pada Hari Itu

Pada hari itu

Tersebutlah kisah enam orang kawan; Tarek, Faiz, Waheed, Yat, Fauziah dan Johan. Mereka sahabat akrab yang hati mereka terpaut antara satu sama lain. Pada hari itu, janji disemat dan ikatan semakin erat. Kerana terpahat dalam hati semangat waja pergi ke almaghrib.

Perjalanan kereta selama 14 jam ke Virginia tidak begitu terasa, kerna niat yang terpahat hanya satu - untuk menuntut ilmu. Dengan harapan dapat menjadi insan yang lebih cemerlang, gemilang dan terbilang .. insan yang lebih akrab dengan tuhan. Insan yang mampu mengingati tuhan, merindui Ar-Rahman.

Pada hari ini

Pada hari ini, almaghrib sendiri yang menziarahi Purdue. Peluang yang begitu mempesona, mengasyikkan. Pilunya, ramai sahabat-sahabat yang masih tertanya-tanya diri sendiri - patutkah aku pergi?

Cuba dikau teliti, adakah itu suara hati atau suara syaitan, atau adakah ia suara kemalasan .. kemalasan iman?

Aku risau .. sungguh aku risau. Disebabkan tidak turut serta almaghrib pada hari ini, aku akan menangis di kemudian hari. Tatkala CEO dunia bertitah dan menyoal: "Sudah cukupkah usaha kamu di dunia? Tidakkah kamu berkorban?"

Dan aku yakin kerisauan ku itu benar. Kerna sehingga hari ini pun mataku masih bergenang air. Menangis yang berterusan, yang aku harap tidak terus sampai ke akhirat. Tangisan kerna dahulunya aku tidak cukup berusaha di Purdue, tidak cukup berkorban.

Tuhan, maafkan aku.

* Nukilan khas buat semua terutamanya: Imam, Ajey, Johan, Pitman, Shaq, Zaki, Faris, Test, Azad, Huzai, Zam, Tariq, Dayat, Jasman, Khairi, Yat, Zaf dan semua teman teman yang namanya tertulis di hati dan bukan di sini.

Thursday, April 07, 2005

"Let us reject dying to fit in ... and instead live to contribute."

"Instead of dying to fit in, Canadian Muslims can contribute tremendously to our multicultural society by speaking out against discrimination and deprivation wherever they occur -- among our First Nations people, refugees, the poor, the needy, children, the sick and the elderly."

___________________________________________

Western Muslims are dying to fit in

http://usa.mediamonitors.net/content/view/full/13724/
by Mohamed Elmasry
(Friday 18 March 2005)


I am very worried about the future of my Muslim brothers and sisters in Western countries.

Why do I feel this way?

It is because I see an increasing and alarming pattern in news reports that point to a very dangerous phenomenon – the crisis of a people who are literally dying to "fit in." The inevitable end result of such behavior is usually a loss of identity, self-respect and – you guessed it – losing the respect of others. Worse still, those who are dying to fit in will remain marginalized.

We are all too familiar with the plight of youth from who are dying to fit in at their schools. Those who are openly rejected by various "in" groups because of skin color, race, physical features, size, religion, gender, drug/alcohol/sexual abstinence, or even high academic achievement, pay an even higher price when they try to fit in.

The situation of Western Muslim minorities is not so different from that of ostracized students dying to fit in with their prevailing peer culture. For example, an American Muslim woman announces that today she will lead congregational Friday prayers before an audience of TV cameras and reporters.

But is prayer leading -- admittedly an exception to 1400 years of Islamic tradition -- really the highest priority for an American Muslim woman? Since Islam does not have a hierarchical Church, mandated to approve or disapprove such a change in practice, every Muslim can do what he / she thinks it is right.

So why the wide publicity? It is because the woman and her supporters are dying to fit in with Western ideas of "progress," ideas which assume that her not taking a prayer leading role would somehow be discriminatory.

Growing instances of Muslims dying to fit in, and losing so much in the effort, are deeply connected to ways in which North American Muslims have been steadily losing their civil liberties since 9/11.

In fact, they are replacing Blacks as the ethno-cultural group most targeted by racial profiling through police and other civil authorities; and sadly, they are replacing Jews as the group most singled out by hate-crime perpetrators. In today's sad reality, not a single place of worship in Canada or the U.S is spied on more than mosques.

And so, as my people are losing their basic rights to worship in peace and safety at mosques across America, one of my sisters in the faith feels she must promote her desire to lead prayers in front of the cameras. It is sad for her, and sad for us, because she is dying to fit in.

In another example, a Canada Muslim Liberal senator has called for the legalization of prostitution. Why, brother, is this such an important issue for you? What about child poverty, homelessness, security certificate detentions, the injustices of our anti-terrorism law, etc. etc.? Are all these issues less important?

Recently, the Canadian branch of an American Islamic organization sent condolences to families of the four RCMP officers murdered by a deranged Alberta gunman. It would seem logical and sensitive to do this: after all, Canadian police officers are our sons and daughters too, as well as our neighbors and friends. We Canadian Muslims are not foreign to them.

But was there something less benign about an American-based Muslim group sending out condolences on this sad occasion? Was it also a desperate public relations move, trying to show that we Muslims are not terrorists, or terrorist sympathizers, and that we care about the welfare of this country's law-enforcement professionals? This should go without saying, brothers and sisters; to overstate such concerns is another submission to the syndrome of dying to fit in.

Now before you jump to the conclusion that I have cast doubt on an expression of genuine sympathy, this same American Muslim NGO has never called on Washington to bring American troops home from Iraq. Is it also dying to fit in?

And I wonder why not a single American Muslim organization -- including the one I've just referred to -- ever speaks out to assert that it is against Islamic values to leave millions of Americans without adequate health care, or that the gap between rich and poor continues to widen, or that the U.S. carries a higher public debt than any other nation on this planet. And I keep wondering; is this the cost we are really paying for dying to fit in?.

During the recent public debate in Ontario on whether to use Islamic (Sharia) law in family arbitration cases, a number of Canadian Muslims expressed shame over the word Sharia, others defended the usage of the word but felt it had significant shortcomings, and others rejected it totally. Are these people also caught up in the phenomenon of dying to fit in and thereby losing some basic principles of faith?

In another unsettling development, some Muslim women in Canada recently organized a beauty pageant. To justify her participation, one of the young participants said she wants to show “we’re not terrorists, we don’t bomb people.” What else is she showing about wanting so badly to fit in?

Last week, Spanish Muslim leaders issued a fatwa (religious ruling) declaring Osama bin Laden an infidel. Hello?? Almost full four years after 9/11? This all-but-redundant fatwa says much more about their desire for social approval that it could ever say, at this late date, about condemning extremism!

Yes, brothers and sisters, I’d like to fit in too. But how?

The sensitivity of North American Muslims to all forms of discrimination has seen a manifold increase since 9/11, especially among our youth. Simply put, the ideal of a just society has completely vanished from their consciousness.

Having to feel and act as a “foreign minority” greatly reduce the effectiveness of Canadian Muslims in addressing the key social and political issues of this country. Above all, it seriously hinders both social and political integration. It is only when the religious self-identification of a minority is based on positive individual and collective values that any minority can survive within a dominant culture, especially that of the Western world.

Instead of dying to fit in, Canadian Muslims can contribute tremendously to our multicultural society by speaking out against discrimination and deprivation wherever they occur -- among our First Nations people, refugees, the poor, the needy, children, the sick and the elderly.

In fact, Canadian Muslims who feel “foreign” because of their religion are significantly less active in the social and political life of this country and feel less politically effective than those who do not feel socially and psychologically subordinate.

The source of political effectiveness for Muslims living in Western liberal democracies is not to act foreign, nor does it lie in dying to fit in. Being whole people, being who we are without shame, intimidation, or inferiority, is the only positive way out of the mental ghetto created from our misplaced attitudes of religion-based subordination.

Let us reject dying to fit in ... and instead live to contribute.

Wednesday, April 06, 2005

Kita ambil pengajaran dari buah mangga.

Janganlah kulit sahaja nampak muda, cekang lagi bergaya .. tapi isi masam mencuka. Nak tak nak muka yang merasa akan berkerut jua.

Paling kurang jadilah seperti mangga tua. Biarlah kulit bonyot, berkedut-kedut, tidak ada rupa .. tapi isinya manis bagai madu, menjadikan manusia senyum riang, tertawa ria.

Tuesday, April 05, 2005

“I Can’t, It’s Impossible”

Article by: Shaikh Naser Al-Omar
Translated, slightly abridged and adapted by: Samir Siksek
Arabic original found on: http://www.islamtoday.net/


One often hears these words repeated, and they are a major reason for the state of failure that the Ummah is enduring.

These words are rooted in a state of mental inability, even though this inability is illusory, not real. Indeed, disabled minds only produce failure.

There is no doubt that there are things in life that are impossible. This is why when the Prophet – blessings and peace be upon him – used to take the oath of allegiance from his companions, he would make them repeat, “[I will listen and obey] to the utmost of my ability”. Allah – Glorified is He – says “Allah does not burden any soul with more than it can bear” [2:286]

This shows that there are some things beyond our abilities. We are not talking about this fact here. For otherwise we may enter into a prolonged discussion, and end upholding the illusion “I can’t, it’s impossible”, and moreover giving this illusion an 'Islamic' justification!

These two phrases “I can’t, it’s impossible” – despite their difference in meaning – have become a law that is used to excuse every failure, negligence and backwardness. They are used to justify the current backwardness, to numb the senses, to destroy the resolve of the Ummah, and to kill every success in its infancy.

Many people, generation after generation, took these two phrases as a beacon guiding their lives, as a way of thinking that makes them accept the current bitter state of affairs, and at the same time feel satisfied that there is nothing they can do.

I stand perplexed before the incredible backwardness of the Ummah, despite its enormous potential for success, progress, and leadership. I have thought long and hard about this, and have decided that the most prominent reason for this backwardness – and there are many – is the illusion “I can’t, its impossible”. This illusion has turned into an unshakeable principle. From it we take off, and in its darkness we operate.

How many tribulations befell us, and are still falling, because of this illusion. The most dangerous of these is not realizing that this is just an illusion; that it disappears when we start investigating it. But you will find those who waste a part of their life defending the idol “I can’t, it’s impossible”. They waste a part of their life trying to prove that this idol is a solid fact; an unquestionable axiom.

This illusion did not form overnight. It is the result of an accumulation of many factors, over the course of many years. Instead of producing men who would lead the Ummah forward without surrendering to the difficulties and obstacles, we found those factors producing more hopelessness, failure and despair.

But I am also amazed at that idolatrous nation that took from difficulties a starting point for its progress, until it was able to compete vigorously with its former enemies, without surrendering to psychological defeat, nor emotional despair. Japan rose from the ashes of Hiroshima and Nagasaki to become an important economic power, and did not make those defeats a reason to cry and hope for the sympathies of others.

As for Germany, it came out from underneath the ruins of World War II to become a powerful nation, and its economy one of the strongest in the world. This despite the fact that Germany was destroyed not long ago – the period between its destruction and its rise as an economic leader is less than 30 years.

Let me just imagine. Had the revivers of the Ummah surrendered to the illusion “I can’t, it’s impossible”, how would the Ummah have been now?!!

Had Abu Bakr – may Allah be pleased with him – said, “I can’t fight the Arabs after their apostasy, and I will surrender to this bitter state of affairs”, what would the result have been? Simply thinking about that scares me.

Had Imam Ahmad bin Hanbal – may Allah have mercy on him – not took his solid stand in the face of the makers of fitnah, backed by rulers who did not realize the danger of what is being said…Had he surrendered and said, “I can’t, it’s impossible”, do you think that that great victory for Ahl-us-Sunnah (at the hands of one man!) would have taken place?

Had Salahu-ud-Din surrendered to the awful humiliation that the Ummah endured under the occupation of the crusaders, excusing himself that he cannot take on that great power that possesses the most powerful weapons, with the unqualified support of many countries… Had he accepted what many other rulers of his time had accepted, humiliation and subjugation, together with the guarantee of continued rule…Had he done this, and said the removal of the crusaders is impossible, would Jerusalem have been purified from the crusaders and their hatred? How today is like yesterday.

Had Shaikh-ul-Islam, Ibn Taymiyah – may Allah have mercy on him – not seriously raised the banner of knowledge, action and jihad, at a time of when callers to falsehood and innovation became outspoken, at a time of political and military defeats…Had he surrendered to the belief “I can’t, it’s impossible”, would history have recorded for us that huge heritage of heroism, knowledge and challenging of falsehood?

Had Muhammad bin Abdul-Wahhab – may Allah have mercy on him – when he found the Arabian Peninsula living in the darkness of ignorance, innovation and blind following, had he accepted for himself what other righteous people did, “I can’t, it’s impossible”, do you think the Peninsula would have awaken from its sleep and got rid of its idolatry and innovations?

Our long history is full of such pioneering leaders and revivers, who recorded for us the most admirable examples the Muslim’s ability to overcome the greatest of physical and mental obstacles, neither surrendering to psychological defeat, nor allowing the compound difficulties to numb their senses.

Many would say, “They were great men, and how few such men are!!”

I say that we did not know they were great until after they recorded those shinning pages of history with their admirable victories in different fields. Before that they were just ordinary men. However, for many reasons, they were able to climb the ladder of success that made them heroes and leaders. Foremost of these reasons is the destruction of the illusion “I can’t, it’s impossible”

http://english.islamway.com/bindex.php?section=article&id=200
Jalan Raya Hadharah Islamiyyah

Umum maklum bahawa garis panduan Islam itu menyeluruh, lengkap lagi melengkapi (syamil dan kamil) dari etika menguruskan negara, membina rumah tangga sehingga lah kepada penjagaan shakhsiyyah diri.

Hasil dari mengamalkan keseluruhan etika shari'ah maka akan terhasillah hadharah islamiyyah, atau madaniyyah islamiyyah atau apa-apa pseudo-name yang kita ingin gelarkan.

Salah satu kesan dari hadharah islamiyyah sebenarnya boleh tampak di jalanraya. Negara yang rakyatnya hidup dengan penuh kesedaran mengenai nilai-nilai Islam akan hidup sebagai ibad Ar-Rahman. Antara ciri utama ibad Ar-Rahman disebutkan di dalam surah al-Furqan:

25:63 And the servants of ((Allah)) Most Gracious are those who walk on the earth in humility, and when the ignorant address them, they say, "Peace!"

Maka rakyat negara hadharah islamiyyah, bukan sahaja mereka berjalan kaki dengan kehambaan, malah seharusnya mereka memandu kereta dengan penuh kehambaan. Hasil dari sifat kehambaan akan menatijahkan pemandu-pemandu kenderaan yang berhemah, bersopan santun, memandu dengan kelajuan yang sederhana dan lain-lain sifat yang terpuji.

Bukan itu sahaja, malah jika ada pemandu non-hadharah menunjukkan tanda satu jari kepada pemandu hadharah, maka pemandu hadharah akan membalas balik dengan dua jari *peace*. Jika pemandu non-hadharah menggerakkan bibir dengan sebutan f-u-c-k, maka pemandu hadharah akan membalas dengan sebutan j-z-k-k. Kerana ini merupakan sifat-
sifat ibad Ar-Rahman.

Menurut Shaykh Tawfek Choukry (di Indianapolis), yang merupakan anak murid Shaykh Said Ramadhan al-Buti negara-negara Islam sepatutnya mempunyai jalan raya yang terbersih di dunia. Kerana ini bukan hanya soal jalan raya, malah sebenarnya soal iman. Semua tahu bahawa, cabang iman yang terendah adalah membuang duri (atau apa-apa yang menyakitkan fizikal dan mata pengguna jalan raya) dari jalan raya. Maka jika cabang iman yang terendah pun kita tidak mampu untuk hidupkan, bagaimana realisasi kita terhadap cabang iman yang terbesar iaitu kalimah syahadah?

Pembesar-pembesar negara hadharah islamiyyah akan berusaha sedaya upaya menurap jalan agar tiada lubang yang boleh merosakkan kenderaan rakyat. Ini kerana mengikuti contoh Umar r.a. yang amat bertanggunggjawab dan begitu risau jika ada unta tercedera kerana jalan yang tidak baik di bandar-bandar.

Dengan hanya menyentuh dua tiga point di atas, diri sendiri tertanya-tanya, negara manakah yang lebih hadharah islamiyyah jalan raya nya, Malaysia atau Amerika?

Ahh .. tiba-tiba terbayangkan jawapan dari ustaz di tv. "Jalan raya kita jalan raya hadharah islamiyyah, kerana kalau kenderaan memotong, mereka memotong dari lorong sebelah kanan dan itu merupakan sunnah ar-Rasul s.a.w. ('alal yameen = mendahulukan yang kanan)"

Whatever :)

Saturday, April 02, 2005

Kerinduan pada Teman-Teman

http://tazkirahpurdue.blogspot.com/

http://usrahrpi.blogspot.com/

http://usrah-camar.blogspot.com/
Absence

How could I share something which I don't have?
How do I give something which I don't possess?
Happiness, is NOT something which is currently in the list of my belongings.